Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2007

khamdan

Muhammad Khamdan
Aktivis IPNU Nalumsari

                      Untuk pertama kalinya, masyarakat Jepara menggelar consensus besar-besaran untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati secara langsung pada 4 Februari ini. Tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati telah resmi berlaga dalam putaran kampanye mempromosikan visi-misi sampai pada urusan pribadi masing-masing di hadapan masyarakat yang mempunyai hal pilih. Manakala tidak ada gugat menggugat ataupun boikot terhadap mekanisme yang diputuskan, satu di antara tiga pasangan dengan perolehan suara paling tinggi akan dilantik dan sumpah janji pada 9 April besok.
           Tapi memahami alur mekanisme tersebut, tidak bisa melupakan fakta-fakta yang riil atas perpanjangan waktu pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), dari jadwal sebelumnya 3 Desember 2006. Apakah masyarakat menemukan kejenuhan dari molornya pilkada itu? Faktanya, lihat saja respon masyarakat sehari-hari dalam satu bulan kemarin. Praktis dalam bulan tersebut, waktu dan konsentrasi masyarakat sama sekali tidak terfokus pada pilkada. Pada 13 Januari lalu, masyarakat lebih disibukkan dengan pertandingan Piala AFF, penantian kedatangan jamaah haji, atau penasaran terhadap bangkai Adam Air dan KM Senopati yang bernasib sama hilang di laut. Di samping fakta-fakta yang memang maklum menyedot perhatian, harus diakui, masyarakat tidak mengetahui persis waktu pelaksanaan pilkada, karena sangat minimnya sosialisasi baik melalui media audio, visual, ataupun audio visual.
           Yang menarik, dalam putaran kampanye tidak ada simbol atau tanda-tanda pengenal terhadap salah satu pasangan kandidat. Biasanya kandidat yang sudah melenggang sebagai calon resmi akan semampu mungkin membuat namanya dikenal. Namun terlalu aneh atau pulalah terlalu “miskin” kandidat yang tidak mau direpotkan dengan persiapan kampanye dan pilkada tanpa modal untuk sosialisasi. Bukankah kandidat ini masih tersangkut dengan dukungan partai-partai yang memiliki konstituen dan anggaran? Kenyataan semacam ini harus diakui adanya “kendor” semangat kandidat, yang berimbas pada “kendor” semangat massa untuk mengikuti pilkada.
          (lebih…)

Read Full Post »

Malam dimanapun tetap sama. Dari lereng gunung yang terkepung angin lembah, kampung-kampung kecil yang tak beraspal, sampai perkotaan yang dilangit-langitnya terpantul gerakan sinar bergoyang-goyang memacu halusinasi orang untuk meliuk-liuan sekujur tubuhnya.
Malam tetap akan gelap, senyap, dan terkadang pengap yang diyakini sebagai fenomena alam atas rotasi bumi, sekaligus perputaran angin, akibat sesaknya panas di daratan pada siang hari, menyusul terjadinya angin darat. Keadaan itu setidaknya dirasakan sesosok lelaki yang gerah sesak untuk tidak terantuk dua kali. Lelaki yang secara fisik baru berpisah dengan pubertas dan berontak meledakkan asmara menghisap aroma birahi.
Ahh, mengapa harus difikir, bukankah selama… ini ketololan dan kesejahteraan yang tersandung ketamakan penyebabnya,bukankah………..
Lelaki itu hanya membatin dalam hati ketika mengarahkan kedua bola matanya ke tepian ruas jalan, 150 meter dari jantung kota beraroma tembakau, kendati tidak akan pernah dijumpai tanaman aslinya.
Di tepi jalan, di teras toko itu banyak tangan-tangan kecil menggoda sekaligus merengek melucuti kemanusiaan orang-orang bergelimang harta yang kadang terbungkus kesinisan agar hartanya tidak boleh didownload. Kini, mereka pulas di atas selembar kertas yang sering dibuang orang di tong sampah.
Masih dengan bungkam sambil memainkan gigi gerahamnya, lelaki itu berdiri persis dibawah lampu 3 warna partai orde baru, di samping baliho perusahaan ternama dikota itu. Kenyataan tentang kemiskinan dan telantarnya anak-anak bangsa yang dilihatnya pada siang hari itulah yang menyebabkan lelaki dengan tubuh sedang, berkacamata, bertampilan sederhana, dan mulai putih rambut di kepalanya menjadi kewalahan memejamkan mata.
“Entah dosa apa yang kau lakukan sehingga harus hidup di jalanan ini. Mungkin inilah imbas perbuatanmu dan keluargamu sehingga Tuhan mengganjar kemelaratan. Mungkinkah ini memang takdirmu?” dengan analisa konservatif, lelaki itu hanya berputar-putar pada alasan Tuhan, takdir dan alam.
“bukan,…bukan kalian yang berdosa atau, tetapi keadaan yang terbangun memaksa kalian seperti ini.” bisiknya.
Itulah kegelisahan yang menggerayangi benak fikir dn menghantui dalam alam bawah sadarnya. Pertanyaan itu memang tidak perlu difikir serius, tetapi munculnya pertanyaan untuk memahami, menjajaki, atau meramalkan realitas tersebut menyisakan suatu hal yang tiada ternilai harganya karena mampu menjadi obat penasaran alam bawah sadarnya.
(lebih…)

Read Full Post »

sekretariat

mwcnu-2007.jpg

nadhatul-ulama.jpg

kantor resmi PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari masa khidmat 2007-2009
Jl Sreni Indah No.1 Timur Kecamatan Nalumsari Jepara 59466 Jawa Tengah

email: ancab_nalumsari@yahoo.com

homepage: www.prismanalumsari.wordpress.com

Read Full Post »

pengurus IPNU

(lebih…)

Read Full Post »

temu alumni

Nomor : 06/PAC/A/VII/7354-7455/III/07
Lampiran : (1)1
Hal : UNDANGAN

Yang terhormat:
Senior (Alumni) IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari
……………………………………………………………
di- tempat

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillahirrohmanirrohim

Sehubungan hasil Konferencab VI pada 13-14 Januari 2007, dan berdasarkan rumusan pembentukan kepengurusan pada 26 Januari 2007, ditindaklanjuti 18 Februari 2007 dan 4 Maret 2007, sekaligus untuk efektifitas kerja berdasarkan amanat konferensi. Maka, diperlukan adanya proses regenerasi.

(lebih…)

Read Full Post »

pelantikan

Nomor : 05/PAC/A/VII/7354-7455/III/07
Lampiran : (1)1
Hal : UNDANGAN

Yang terhormat:
Pimpinan Badan Otonom NU se-Nalumsari
Instansi Pemerintahan se-Nalumsari
Pimpinan Organisasi Masyarakat se-Nalumsari
Kepala Sekolah MTs, SMP, MA, SMA, SMK se-Nalumsari
Pimpinan Pesantren se-Nalumsari
Bapak, ibu, saudara, sahabat, rekan
……………………………………………………..
di- tempat

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillahirrohmanirrohim

Sehubungan hasil Konferencab VI pada 13-14 Januari 2007, dan berdasarkan rumusan pembentukan kepengurusan pada 26 Januari 2007, ditindaklanjuti 18 Februari 2007 dan 4 Maret 2007, sekaligus untuk efektifitas kerja berdasarkan amanat konferensi. Maka, diperlukan adanya proses regenerasi.

Untuk itu, sebagai cermin organisasi yang sistematis sekaligus wujud organisatoris, maka kami berkehendak untuk melaksanakan proses pelantikan sebagai alih kepemimpinan.
Adapun pelaksanaan besok:
Hari, tanggal : Ahad, 18Maret 2007
Waktu : pukul 14.30 WIB
Tempat : Gedung MWC NU Nalumsari
Keperluan : Menghadiri prosesi pelantikan IPNU-IPPNU Nalumsari

Untuk itu, kami mohon kepada bapak, ibu, saudara, sahabat, dan rekan, serta rekanita untuk memberikan waktu gunamenghadiri acara tersebut.

Atas perhatian dan kesediaannya, diucapkan banyak terima kasih.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thorieq
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Nalumsari, 22 Shafar 1428 H
12 Maret 2007 M
Panitia Pelaksana Kegiatan
IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari

SUKARNO SYAIFUL UMAM
Ketua Sekretaris
MK/mk

Read Full Post »

Geliat Spiritual Perkotaan

Tak ada yang lain… selain dirimu
Yang selalu kupuja……..
Kusebut namamu
Disetiap hembusan nafasku
Kusebut namamu……kusebut namamu

Dalam satu tahun terakhir ini, fenomena menarik telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di dunia hiburan tabung kaca, yaitu dengan semaraknya fenomena-fenomena televisi bernuansa religi serta fiksinya. Kalau berfikir ke belakang, fenomena tersebut mungkin hanya ditemui ketika Ramadhan tiba. Biasanya, acara yang menyuguhkan jalan spiritual (the spiritual path) akan mendapatkan rating tertinggi dari penonton. Tampaknya, fenomena tersebut juga terjadi, kendati tidak di bulan Ramadhan. Sebagaimana pernah ditulis oleh Hamid Basyaib, bahwa bulan Ramadhan bukanlah bulan puasa, melainkan bulan hiburan dan banjir hadiah.
Yang semakin mencolok adalah menonjolnya klub-klub musik menggubah lagu menjadi lebih memiliki nilai spiritual dan bidang penghayatan batiniyah kepada Tuhan yang semakin mendalam, seperti yang dilakukan grup band Dewa yang dikomandani Ahmad Dhani. Tampaknya, jalan spiritual telah menjadi pilihan ketika situasi hedonis dan konsumeris semakin mengepung masyarakat modern (kota). Gejala tersebut akibat stress dan krisis mental berkepanjangan yang dialami banyak manusia saat ini, termasuk dekadensi moral yang kurang memberi kebahagiaan.
Group band Dewa membangkitkan gairah spiritual lebih dengan pendekatan tasawuf Islam ke mistik Jawa. Pendekatan tersebut bagi penulis karena memang Islam (sebagai simbol religiusitas) lebih mudah masuk dan diterima di Indonesia bukan karena ajaran agama yang sederhana, tetapi karena gaya penyampaian yang dilakukan pedagang Persia dan Gujarat lebih menekankan pada pengetahuan hakikat Tuhan, baru pada gerak spiritualitasnya. Asumsi ini melihat begitu suburnya mistisisme di masyarakat, yang dimengerti oleh masyarakat Indonesia dapat dikompromikan dengan budaya Hindu-Budha, akhirnya muncul pergerakan mistisisme jawa atau kejawen dan mistisisme daerah lainnya.
Realita spiritual yang dihadirkan anak muda perkotaan tersebut, setidaknya memiliki korelasi kejadian sebagaimana dahulu Walisongo. Dulu sebelum Walisongo melakukan aktifitas islamisasi, Indonesia merupakan sentra perkembangan Hindu-Budha yang masih kental dengan tradisi animisme dan dinamisme (tahayul). Bahkan Walisongo sendiri digambarkan sebagai orang hebat yang mungkin secara rasional lebih hebat dari para Nabi. Diceritakan bahwa Sunan Kalijaga yang semula brandal Lokajaya dijadikan wali oleh Sunan Bonang hanya dengan menyuruhnya menjaga sungai bertahun-tahun sampai ditumbuhi lumut, sungguh kisah tidak islami, karena Islam mengajarkan menuntut ilmu bukan bersemedi atau bertapa untuk mencapai derajat yang mulia di sisi Allah ataupun manusia. Dan sekarang, penayangan televisi yang semula berlomba-lomba menyajikan acara mistik akhirnya tetap bernuansa mistik dengan dibalut unsur-unsur religi (islam), seperti rukyah, atau cerita kitab salafy. Mistisisme memang tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakat dari dulu hingga sekarang walau di perkotaan sekalipun.
Mudahnya pemberdayaan spiritualitas dicerna masyarakat perkotaan yang notabene rasional, karena pemberdayaan tersebut jarang menerapkan ketaatan yang dipaksakan atau doktrin dogmatis, melainkan divisualisasikan dalam realita masyarakat. Cerita-cerita dalam kitab klasik (kuning) semisal al-Muwaidz al Ushfuriyah karya Syeikh Muhammad bin Abi Bakar diadegankan sedemikian rupa dalam dunia modern, sehingga pesan moral mudah dicerna kendati apa yang diterima penonton kadang berbeda dengan amanat asli dari kitab tersebut. Begitupun ulasan moral dalam kitab Talbis Iblis yang ditulis Ahmad Yasin Asymuny al Jarumy memiliki kelebihan mudah dicerna banyak orang setelah diperankan dalam media audio visual tabung kaca.
Menyadari faktor-faktor mudahnya pemberdayaan spiritual di atas, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa budaya lama harus dimodifikasi kembali berdasarkan zaman yang selalu berputar. Jika dahulu umat islam hanya menerima metode ceramah melalui kitab-kitab salaf (kuning dan gundul), sekarang sudah mengikuti trend dengan mengimplementasikan dalam gerak dan suara sesungguhnya (difilmkan). Hal ini harus diikuti pada dataran yang lain guna meningkatkan kembali spiritualitas masyarakat kota atau desa, sekaligus mengembangkan kebudayaan Islam di Indonesia yang terkesan “mati suri”.
Terdapat dua landasan analisis mengapa penulis menawarkan modifikasi pemberdayaan spiritual. Kebutuhan jalan spiritual dalam spirit religi adalah konsekwensi penderitaan psikis masyarakat dari kehidupan yang serba mengimpit dan membuat stress. Kedua, dari arti religion intelectualisme sebagai upaya merasionalkan agama menuju pemahaman yang mudah, mengingat obyek pemberdayaan saat ini dalam putaran dinamika kemodernan. Salah satu contoh penulis hadapkan yaitu manajemen qolbu A’a Gym, yang dalam kaca mata penulis merupakan perpaduan jalan spiritualitas tasawuf (tarekat sufi) dengan rasionalitas amalan batiniah.
Sebagaimana lagu “satu”, “hadapi dengan senyuman” dan “hidup ini indah” yang terhinpun dalam album Dewa (laskar cinta), bagi penulis juga termasuk konsekwensi logis bagaimana pemberdayaan spiritual harus mulai dilakukan dari masing-masing budaya yang dikuasai semua individu yang menginginkan munculnya geliat spiritual di masyarakat, ini merupakan salah satu teknik keberagamaan –meminjam istilah Prof. Muslim A. Kadir-. Benar atau salah yang penulis kemukakan sama seperti lirik “Apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran, mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat lainnya”, dalam lagu Shine on-nya Dewa.

Muh. Khamdan
Pemimpin Redaksi LPM Paradigma STAIn Kudus(2005-2006)
pernah dimuat di Majalah Paradigma Edisi 9 tahun 2006

Read Full Post »

Older Posts »