Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2007

TANGGAPAN DAN JAWABAN BALIK

ATAS SK PEMBEKUAN PAC IPNU NALUMSARI NO: 94/PC/SK/XX/7354/X/’07

DAN PENJELASANNYA NO: 97/PC/A/XX/7354/X/’07 

MUQODDIMAH 

Assalamu’alaikum Warahmah,

Asyhadu alla Ilaha Illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah 

Jangan sampai seorang muslim mengklaim Islamnya sebagai Islam yang paling benar, hingga tergoda untuk menjadikannya sebagai pedoman bagi muslim lainnya. Semua pemahaman Islam kita, seharusnya perlu diperbaharui dari waktu ke waktu dengan jalan belajar, mengkaji, dan yang lebih penting lagi adalah mendialogkannya agar sesuai konteks zamannya. Sebagaimana prinsip sholih li kulli zaman wa makan. 

Islam tidak akan berkembang seandainya tidak ada orang yang mengartikulasikannya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan kondisi geografis, sosiologis, dan nalar kritis, meskipun rendah pengetahuannya. Jangan berharap bahwa penafsiran dan upaya pemahaman atas Islam akan sempurna, karena kesempurnaan adalah relative. Apalagi sekadar menghendaki lingkup pemahaman terhadap organisasi yang selalu butuh interaksi dan komunikasi dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan agar tidak terjadi “gesekan” sosial yang menyimpang. Hal ini didukung adanya adagium daf’ul mafasid muqoddim ‘ala jalbil masholih 

Adalah problem yang sangat besar manakala dalam kenyataannya terdapat individu atau kelompok yang mencoba memfinalkan pemahamannya kepada orang lain. Pemahaman ini sampai kapanpun akan sulit menerima kenyataan pluralnya pemikiran dan pemahaman orang lain terhadap suatu realitas sosial. Paradigma seperti ini juga akan dapat menutup setiap pintu dialog dalam rangka pemahaman menuju kesempurnaan. Untuk itulah, tidak ada tempat bagi stagnansi pemahaman, paradigma totaliter daripada dialog, serta fanatisme berlebih berwujud pada eksklusifisme ekstrim dengan klaim (menakut-nakuti) kesesatan. Dan sekali lagi, paradigma itu harus diubah dengan kesediaan menerima perbedaan dan dialog produktif yang tetap pada substansi persoalan berdasarkan fakta yang mengikutinya. Demikian dipertegas dalam prinsip fikih, al muhafazhah ‘ala qadim ash-shalih, wal akhdzu bil jadid al-ashlah. 

Maka dari landasan di atas, PAC IPNU Nalumsari merasa sangat memerlukan adanya penjelasan (tabayyun) balik sekaligus tanggapan kepada SK Pembekuan dan Penjelasannya dari PC IPNU Jepara, sebagai berikut:   

(lebih…)

Read Full Post »

HALAQOH BUDAYA DAN ORASI PUISI

REVITALISASI NILAI KEARIFAN LOKAL ;

RESPON PROBLEMATIKA ZAMAN

DALAM PERSPEKTIF BUDAYA

 

A. LATAR BELAKANG

Rakyat kecil sekarang ini sedang terjepit kegelisahan yang memuncak. Ruang ekspresi untuk menyalurkan kegelisahan rakyat kecil semakin sempit dan langka. Gedung pertunjukan dan diskusi kebudayaan hilang ditelan modernitas zaman.

Ekpresi kebudayaan dan kesenian warga kecil tak menemukan ruang leluasa dan merdeka. Ruang ekspresi untuk mendedahkan rasa seni yang membuncah dalam diri tak dapat dijumpai karena minimnya fasilitas. Anggaran bagi lembaga kesenian di setiap daerah hanya cukup untuk menyelenggarakan beberapa kegiatan kecil. Akibatnya, infrastruktur yang mendukung kegiatan kesenian dan kebudayaan di setiap daerah kurang memadai. Jangankan membangun gedung pertunjukan, membiayai kegiatan kesenian saja tertatih-tatih. Hal ini menjadi ironis, memingat kebudayaan sebenarnya menempati ruang penting dalam naskah sejarah bangsa ini.

Political will pemerintah tak menyentuh perbaikan fasilitas kesenian yang sangat dibutuhkan warga. Kesenian menjadi semakin terpinggirkan, karena miskinnya tanggung jawab pemerintah. Menurut Imam Cahyono (2006), Rezim penguasa dewasa ini menganut paradigma ala pedagang (corporatocracy). Yang menjadi fokus perhatian pemerintah hanya saldo neraca keuangan, meski rakyat dilanda berbagai bencana. Negara menjadikan rakyatnya penikmat segala barang produksi asing. Pemerintah tak mau repot mengurus warganya sehingga rakyat menjadi korban ulah negara (state neglect) yang tak terurus. Rakyat apatis dan hopeless terhada negara, rakyat harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup dan tetap eksis. Biarpun rakyat haus akan tersedianya ruang kesenian yang memadai, pemerintah tak menganggapnya sebagai fokus perhatian.

Ruang kesenian rakyat yang semakin terpinggirkan, membuat kreatifitas kebudayaan warga semakin melemah. Rakyat kecil hanya menjadi penonton berbagai pertunjukan politik, kampanye pemilu dan drama kasus korupsi. Warga hanya menjadi penikmat tontonan yang disuguhkan televisi, tak ada kritik yang timbul atas berbagai persoalan bangsa, karena rakyat dibungkam oleh kekangan penguasa. Hal ini menjadikan warga sebagai kaum mayoritas diam (silent majority), yang tak mampu menyalurkan segala kegelisahan yang dirasakan. Maka tak heran, apabila rakyat kecil menumpahkan kegundahan melalui diskusi gayeng di warung kopi, demonstrasi di jalan-jalan, maupun luapan emosi di stadion sepak bola. Keinginan berekspresi yang tersumbat akan meluap di ruang-ruang publik dengan tanpa kontrol.

Kesenian yang Terpinggirkan

Di berbagai daerah, memang sudah terbentuk Dewan Kesenian yang dibentuk pemerintah sebagai penggerak kesenian warga. Dewan kesenian sebagai institusi yang memberi spirit dan menyediakan ruang ekspresi seni bagi warga. Dewan Kesenian di daerah, sering merasa kesulitan mengadakan pameran seni, pertunjukan teater dan pementasan kesenian warga lokal. Padahal, potensi kesenian warga harus sering dipentaskan agar tumbuh semangat baru mengisi kekosongan “nurani bangsa” sekarang ini. Ruang ekspresi kesenian warga juga menjadi ajang regenerasi pegiat seni di daerah. Tumbuhnya generasi baru dibarengi genggaman semangat akan menghantarkan iklim kesenian daerah menjadi dinamis dan kaya gagasan kreatif. Generasi muda akan bersanding dengan generasi senior untuk bersama memajukan dunia kesenian di daerah masing-masing. Inilah yang sebenarnya menjadi harapan pelaku kesenian di berbagai daerah.

Akan tetapi, harapan itu menjadi harapan semu, yang sulit tercapai. Padahal kesenian mempunyai peran penting dalam membangun mental generasi bangsa. Kesenian menjadi “jeda” untuk menemukan kembali nurani bangsa ini yang sedang tercabik kemiskinan, bencana dan krisis multidimensi. Seni, ungkap Kuntowijoyo (2006), sebagaimana karya sastra mempunyai beberapa peranan, diantaranya sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication) dan cara penciptaan (mode of creation). Seni dapat menjadi jembatan memahami berbagai problem yang melilit sekujur tubuh bangsa, mengkorelasikan ragam masalah dengan kearifan lokal (local wisdom) dan bahasa nurani, sehingga tercipta gagasan kreatif sebagai altrenatif solusi rentetan masalah (problem solving) yang ada di berbagi penjuru bangsa ini.

(lebih…)

Read Full Post »

Orang boleh bilang jelek, kita jawab biarin…orang boleh bilang nDeso, kita jawab biarin….. orang boleh bilang miskin, kita jawab biarin…. Tapi kalo orang bilang PAC IPNU Nalumsari SESAT dan perlu diSESATKAN, apalagi di bumi hanguskan, kita jawab SETAN lo…. Belum tahu nih ma orang????

ketua-ipnu.jpg

Read Full Post »

Kalo dimungkinkan perang, dan Para Patih telah letih tertatih-tatih, barulah orang-orang di bawah ini akan menyelamatkan “kerajaan” PAC IPNU nalumsari dari segala kudeta dan perebutan kekuasaan… Ayo Maju……………..!!!

 ketua-har-ipnu.jpg

Read Full Post »

Jika titah raja keluar, Patih inilah yang akan menggerakkan awak pasukan untuk GAYANG siapapun yang mengusik “kerajaan” PAC IPNU Nalumsari…

ketua-dept-ipnu.jpg

Read Full Post »

Bagaimanapun juga, jelek atau cakep, inilah penguasa PAc IPPNU Nalumsari masa kini (2007-2009).

ketua-ippnu.jpg

Read Full Post »

Punggawa Departemen

Punggawa-Punggawa PAC IPPNU yang termanis dari berbagai pose:

ketua-dept-ippnu.jpg

Read Full Post »