Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Islam Toleran Antarsesama

Tawadlu’ Beragama 


Tawadlu’ Beragama Dalam sebuah kisah imajiner ten-tang keunggulan tampilan agama, hadir wakil dari Islam, Kristen, dan Yahudi. Masing-masing membawa rasa kebang-gaannya sendiri, dan menyimpan niat untuk saling menunjukkan kekurangan kepercayaan lawannya. Orang Islam memulai menuturkan bahwa dalam beribadah, mereka senan-tiasa menutup atas kepalanya dengan sorban atau peci, dan menanggalkan alas kaki ketika memasuki tempat ber-ibadah. Alasannya, tentu Tuhan maha suci, maka harus disucikan rumahNya Secara sinis ingin menyebut bahwa orang lain tidak menyucikan Tuhannya.Orang Kristen menyampaikan keti-ka beribadah, ia tidak perlu memakai tutup atas kepala, kecuali pemuka dari kalangannya, namun memakai alas kaki, baik sepatu maupun sandal. Hal demi-kian untuk memberi penghormatan atas kesamaderajatan umat.Ketika tiba giliran wakil dari kalangan Yahudi, dengan sinis ia ber-kata: “Kami dalam beribadah senantiasa memakai kopyah, dan memakai alas kaki, untuk memuliakan Tuhan dengan kerapian kami.”. Tambahnya dengan kebanggaan. “Dan kalian hanya meng-hilangkan satu bagiannya saja. Islam membuang sandal, dan Kristen me-nyembunyikan kopyah”.Nah, cerita imajiner di atas, sebe-tulnya ingin menganjurkan corak keber-agamaan yang rendah hati, tidak arogan dengan klaim-klaim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjur-kan tawadlu atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Pertama, doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat, be-rupa: quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “alat pukul” sekte Ahlussunnah waljamaah (Aswaja) dalam menyesatkan orang lain.Kedua, doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi, bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Doktrin ini terta-nam kuat dalam psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” agama. Keha-diran agama tidak dipandang sebagai “negasi” dari agama lain.Ketiga, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan”. Kelompok yang menyebut dirinya ahlussunnah wal-jamaah memandang dirinya satu-satunya ke-lompok sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah me-mandang yang selamat, selebihnya sesat. Doktrin ini juga diteruskan MUI me-lalui fatwa penyesatan.

Mayoritas kelompok Islam Indonesia adalah Islam yang santun. Islam yang santun itu pulalah yang dicontohkan oleh kelompok seperti NU yang berdiri pada 31 Januari 1926 M. Namun me-lalui arogansi MUI, kondisi keber-agaman Indonesia mulai berubah men-jadi beringas yang sesuka hati menye-satkan orang lain disertai adanya tindak kekerasan.

Read Full Post »

Berebut Makna Aswaja

Aswaja Dalam Gugatan Makna Aswaja adalah postulat dari ungkapan Rasulullah saw.,“Ma ana alaihi wa ashabi”. Berarti, golongan aswaja adalah golongan yang mengikuti ajaran Islam sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah beserta sahabatnya.  

Aswaja adalah satu di antara banyak aliran dalam Islam. Aswaja tidak muncul dari ruang hampa. Ada banyak hal yang mempengaruhi kelahirannya dari sejarah. Di antaranya adalah konstelasi politik yang terjadi pada masa pasca Nabi wafat.

 

Kematian Utsman bin Affan, menyu-lut reaksi. Utamanya, karena ia terbunuh tidak dalam peperangan. Hal ini meman-tik semangat untuk menuntut Imam Ali KW, pengganti Utsman, untuk bertang-gungjawab. Terlebih, sang pembunuh, ternyata berhubungan darah dengan Ali.

 

Muawiyah bin Abu Sofyan, Aisyah, dan Abdulah bin Thalhah, serta Amr bin Ash adalah beberapa sahabat yang getol menuntut. Bahkan, semuanya harus menghadapi Ali dalam peperangan. Dan yang mengejutkan adalah strategi Amr bin Ash dalam perang Shiffin (39H), dengan mengangkat mushaf di atas tom-bak. Tujuannya, hendak mengembalikan segala perselisihan kepada hukum Allah. Dan Ali setuju, meski banyak pengikut-nya yang tidak puas. Akhirnya, tahkim (arbritase) di Daumatul Jandal, menjadi akar perpecahan pendukung Ali menjadi Khawarij dan Syi’ah.

 

Perseteruan politik ini membawa efek yang cukup besar dalam ajaran Islam. Sebagaimana terjadi masa Yazid bin Muawiyah, yang sengaja memeng-gal kepala Husein bin Ali, cucu Rasulullah, beserta 70-an anggota keluarganya di Karbala, Iraq.

 

Akhirnya, dinasti Umayyah meres-tui hadirnya paham Jabariyah yang menyatakan bahwa manusia tidak punya kekuasaan sama sekali. Opini ditujukan untuk menyatakan bahwa pembantaian itu memang telah digaris-kan Tuhan tanpa bisa dicegah.

 

Beberapa kalangan yang menolak, akhirnya membentuk second opinion dengan mengelompokkan diri ke sekte Qadariyah yang menyatakan bahwa manusia punya kemampuan untuk melakukan segalanya. Dan Tuhan hanya menjadi penonton dan hakim di akhirat kelak. Karenanya, pembantaian itu adalah murni kesalah-an manusia

 

Melihat kacaunya “perselingkuhan” teologi dan politik, ada kalangan yang jenuh dengan semuanya. Mereka me-masrahkan semua urusan dan perilaku manusia pada Tuhan di akhirat kelak. Mereka menamakan diri Murji’ah. Di antara para sahabat yang dalam kelom-pok ini adalah Abu Hurayrah, Abu Bakrah, dan Abdullah Ibn Umar.

 

“Pada dasarnya, Murjiah adalah benih Sunni.” Komentar Sukarno.

 

Aswaja Dalam Problem Kekinian

 

Aswaja adalah postulat dari ungkapan Rasulullah saw.,“Ma ana alaihi wa ashabi”. Berarti, golongan aswaja adalah golongan yang mengikuti ajaran Islam sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah beserta sahabatnya. Ungkapan tersebut memang nampak sederhana, namun persoalannya adalah bagaimana bisa menilai suatu amalan benar-benar sesuai dengan yang dilakukan Nabi? Dan tentu, pemahaman itu tidak akan tunggal.

 

Pada titik ini, terjadi pergolakan pemi-kiran antara “NU tua” dengan “NU muda”. Bagi kalangan anak muda NU, konsepsi Aswaja yang digelindingkan oleh pendiri NU, sudah terasa cukup sempit dan tidak berelevansi.

 

Konsep itu, sebagaimana dalam naskah khittah NU (butir 3 (b)), menya-takan Islam aswaja adalah Islam yang menganut salah satu dari empat madzhab dalam fikih (Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali), menganut salah satu dari dua madzhab dalam teologi (Al-Asy’ari dan Al-Maturidi), serta menganut salah satu dari dua madzhab dalam tasawuf (Al-Ghazali dan Al-Junaidi). Dengan demi-kian, selain menggunakan madzhab-madzhab di atas, secara otomatis tidak termasuk golongan aswaja ala NU.

 

“Konsep tersebut memang relevan, tapi ketika didudukkan pada kompleks-itas problem mutakhir yang kian multi-dimensional, kiranya patut ditinjau ulang. Dalam fikih misalnya, menurut kalangan anak muda NU, sudah nyata-nyata tidak mampu menampung. Namun, seringkali kita memaksakan diri untuk ‘mengem-balikan’ kompleksitas persoalan mutakhir ini pada empat madzhab. Selain itu, dengan adanya pembatasan madzab, kita akan terkungkung pada satu alur pemikiran, bahkan bisa terjerumus fanatisme, pengkultusan satu madzab tertentu, dan menganggap pemikiran lain yang berbeda tidak sesuai dengan Aswaja”, terang ketua PAC IPNU, Khamdan dalam diskusi akhir tahun.

 

Di sinilah letak poin-poin yang harus dikaji ulang. Di antara tawaran alternatif yang mencuat dari kalangan NU muda, yaitu aswaja sebagai ‘manhaj al-fikr’ (metode/cara berfikir), bukan lagi sekadar sebagai sistem beragama yang mengharuskan bermadzab.

 

Orientasi yang ingin digapai manhaj al-fikr antara lain kemerdekaan indi-vidu dalam berijtihad, menciptakan metode-metode baru yang progresif dalam berijtihad, memberikan peluang tajdid bagi pemikiran-pemikiran baru yang berorientasi pada ‘kemaslahatan publik’ dan ‘pembebasan dari ketertin-dasan’, dan memperluas cakupan ilmu dan lahan garapan, tidak hanya soal-soal fikih-teologi-tasawuf.

 

Demikian hasil diskusi akhir tahun PAC IPNU Nalumsari, di rumah Rekan Sukarno, Desa Blimbingrejo (30/12), yang senantiasa membutuh-kan pembahasan kontinu

Read Full Post »

Geser Makna Aswaja

Menggeser Makna Aswaja

 Akhir 2007, Indonesia digegerkan kembali dengan penganiayaan terhadap aliran Ahmadiyah, dan juga adanya aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang pimpinannya mengaku menggantikan Nabi Muhammad, dengan alasan konteks zamannya berbeda.Memang Nabi muhammmad pernah bersabda kurang lebih “umatku di akhir zaman nanti akan terpecah-pecah menjadi 72 golongan…yang paling benar adalah golongan Ahlus Sunnah Waljama’ah”, dan Ungkapan Nabi itu lantas menjadi aksioma umum. Sejak saat itulah kata aswaja menjadi sedemikian populer di kalangan umat Islam, untuk menjadi perebutan kebenaran aliran masing-masing, termasuk di Indonesia.

Ironisnya, konsepsi Aswaja yang digelindingkan oleh pendiri NU, dianggap kalangannya sendiri, mulai terasa sempit dan “rigid.” Konsep itu, secara sederhana, menyatakan bahwa Islam Aswaja adalah Islam yang menganut salah satu dari mazhab fikih berupa Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali, menganut satu dari dua madzhab dalam teologi [Al-Asy’ari dan Al-Maturidi], serta menganut satu dari dua madzhab dalam tasawuf [Al-Ghazali dan Al-Junaidi]. Jika tidak menganut dari mazhab-mazhab di atas, dengan sendirinya tidak termasuk Aswaja ala NU.

Nah, adanya berbagai problem masyarakat, menjadikan Aswaja perlu digeser menjadi metode berfikir (manhaj) daripada sekadar doktrin (mazhab). Aswaja tidak diposisikan sebagai teks yang haram disentuh. Karenanya, harus ada cara pandang baru dalam memahami Aswaja bahwa dalam setiap ajaran punya nilai substansi yang sifatnya lintas batas karena universalitasnya. Hal ini bisa dilihat dari tiga nilai dasar Aswaja; yakni tawazun, tawasuth, dan i’tidal, yang bermaksud memanusiakan manusia

Read Full Post »

Met Tahun Baru 2008 M

masjide-ipnu-nalumsari.jpg 

Salam terhatur buat Rekan-Rekanita yang merayakan Tahun Baru 2008M, meski kita punya tradisi sendiri dalam merayakan tahun baru kita, tapi tiada salah juga di awal tahun 2008M ini, kita juga nengadakan koreksi massal, bahkan koreksi nasional tentang gerakan organisasi kita, Yaitu telah mulai tercerabut dari akar perjuangan Nabi pertama kali dalam memakmurkan masjid..Mari kita mulai kembali garis perjuangan kita dari Masjid dulu, baru ke ranah sosial lainnya.. Salam Belajar, Berjuang, dan Bertakwa..

Read Full Post »