Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Kado Buat Anak Bangsa

Baru-baru ini, aku telah melihat

Sebuah kebun yang indah di dalam hatiku.

Aku telah mulai berdoa

Dan bermeditasi di dalam kebun tersebut,

Dan aku sangat gembira dan bahagia.

Ibuku telah menasihatiku

Untuk berdoa kepada Tuhan

Untuk sebuah hati besar,

Sebuah hati yang sangat besar.

Aku sedang melakukan hal itu,

Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!

Ayahku telah menasihatiku

Untuk berdoa kepada Tuhan

Untuk sebuah kepala yang kecil,

Sebuah kepala yang kecil sekali.

Aku sedang melakukan hal itu,

Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!

Hari ini aku sangat diilhami

Utuk membuka

Rahasia-doaku

Dan rahasia-meditasiku.

Ketika aku berdoa kepada Tuhan,

Aku mengepal tanganku dan menaruhnya

persis di dadaku

Dan aku mencoba mendengar denyut jantungku.

Aku melihat ke atas untuk menemukan sebuah tempat

Sepuluh feet, sekurang-kurangnya,

Lebih tinggi daripada kepalaku.

Ketika aku telah menyelesaikan semua hal ini,

Aku mulai berdoa.

Terus-terang saja, saya mendapatkan hasil luar biasa.

(Salam Ta’dzim atas proses pembelajaran SDIT-TKIT AL HUSNA Mayong Jepara, semoga mampu mempersembahkan pengabdian keilmuaan bagi kemajuan anak-anak bangsa yang terpinggirkan, tertindas, dan dalam segala bayang-bayang kekerasan)

Iklan

Read Full Post »

KONFERWIL PWNU JATENG
(Dari Isu Calon Gubernur Sampai Isu Penebusan “Dosa” Kekalahan bambang-Adnan)


Kabar terbaru dari penyelenggaraan Konferensi Wilayah (Konferwil) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah, di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kabupaten Brebes. Abu Hapsin menyatakan menolak dicalonkan sebagai ketua tanfidziyah Pengurus Wilayah NU Jateng periode 2008-2013. Tokoh yang getol memperjuangkan pasangan bambang-Adnan dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah ini juga menjadi pioner pembela kaum muda NU dalam mengembangkan faham “sepilis”, yaitu sekulerisme, pluralisme, dan liberaalisme, sebagaimana aktivis JUSTISIA di faakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.

Ia justru menganggap Mohamad Adnan lebih layak mengisi posisi nomor satu di NU Jateng itu. “Tidak. Saya enggak mau dicalonkan. Masih ada yang lebih bagus, Kang Adnan (panggilan akrab Mohamad Adnan) itu, lho,” ujarnya kepada NU Online, di sela-sela Konferwil, Jumat (11/7) kemarin.

Menurut Abu, pada awalnya, Adnan menolak dicalonkan kembali setelah gagal menjadi wakil gubernur pada Pemilihan Gubernur Jateng pada 22 Juni lalu. Tapi, belakangan, sejumlah pengurus cabang NU mendukung serta menghendaki Adnan kembali memimpin PWNU Jateng.

Dukungan tersebut, jelas Abu, lantaran sejumlah PCNU merasa “berdosa” karena tak mendukung Adnan dalam Pilgub. “PCNU yang dulunya tidak mendukung dalam Pilgub, kali ini merasa ‘berdosa’ sehingga bertanggung jawab untuk mengamanatkan kembali Kang Adnan,” ucapnya.

Ia memperkirakan, Adnan masih mempunyai peluang mendulang banyak dukungan dari PCNU. “Cukup dominan dukungan pada Kang Adnan,” ucapnya tanpa menyebutkan prosentase perolehan suaranya nanti.

Jika Adnan kembali memimpin, imbuh Abu, maka hal itu sekaligus menunjukan NU tidak terpecah akibat kepentingan politik pasca-Pilgub. “PCNU se-Jateng ingin menunjukan bahwa NU Jateng tetap solid,” pungkasnya.

Abu yakin, jika hal itu terjadi, Adnan akan lebih berhati-hati, terutama pada wilayah politik praktis. Adnan akan lebih berkonsentrasi pada persoalan nonpolitik praktis. Pasalnya, persoalan Nahdliyin masih banyak yang belum disentuh, seperti masalah pendidikan dan ekonomi.

Di sisi lain, Nama Ali Mufiz masih saja disebut-sebut dijagokan sebagai ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah periode 2008-2013, meski yang bersangkutan mengisyaratkan menolak jabatan itu.

Ali yang masih menjabat Gubernur Jateng saat ini, dinilai mampu menggerakkan potensi badan otonom (banom), lembaga dan lajnah di lingkungan PWNU Jateng yang selama ini belum terlalu produktif.

Penilaian itu diungkapkan Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Demak, Musadad Syarief, di lokasi Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jateng, di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kabupaten Brebes, Jumat (11/7) kemarin.

Menurut Musadad, Ali juga merupakan figur yang cukup wibawa, baik di dalam maupun di luar NU. “Selama ini, dia cukup ‘bersih’. Bukan figur politik dan orang politik, meski beliau dosen ilmu politik,” tandasnya.

Ia menjelaskan, seluruh banom, lembaga dan lajnah di lingkungan PWNU Jateng membutuhkan pemimpin seperti Ali yang dapat memberikan semangat untuk bekerja menurut bidangnya. Sebab, NU tak bisa jika hanya mengandalkan peran rais syuriyah dan ketua tanfidziyah.

“Kalau yang berkiprah hanya rais dan ketua tanfidziyah, itu baru pembinaan. Itu namanya jalan di tempat. Sedangkan pendidikan dan pemberdayaan harus dilakukan lajnah,” terang Musadad.

Sejumlah banom, lembaga dan lajnah, seperti Lembaga Pendidikan Maarif NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Rabitah Maahid Islamiyah (RMI) dan Lembaga Perekonomian NU, tidak begitu maksimum gerakannya. Selain itu, tidak ada pula kesinambungan kerja antara pengurus cabang yang satu dengan lainnya.

Maka, dibutuhkan pemimpin yang mampu mendorong dan menggerakan potensi-potensi itu. “Artinya, personalia kepengurusan nanti bisa terisi orang-orang yang mempunyai disiplin ilmu makro,” harapnya.

Jika tidak demikian, maka tidak dapat disalahkan kalau akhir-akhir ini muncul fenomena diambilalihnya sejumlah masjid dan musala yang didirikan warga NU. Juga fenomena maraknya aliran dan paham yang berseberangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

Untuk mempercepat gerak organisasi, Nahdlatul Ulama (NU) harus melakukan pembaruan-pembaruan di segala bidang. Salah satunya dengan merubah paradigma berpikir agar mampu melahirkan program yang tidak hanya kontekstual, tapi juga konseptual.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Jawa Tengah, Ali Mufiz, kepada NU Online usai pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jateng di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kabupaten Brebes, Jumat (11/7) malam.

“Perubahan paradigma berpikir, tidak hanya mengarah pada program kontekstual, tetapi juga pemikiran konseptual. Agar NU dapat bermanfaat bagi umat,” ujar Ali yang juga disebut-sebut salah satu kandidat kuat ketua tanfidziyah Pengurus Wilayah NU Jateng.

Selain itu, menurut Ali, NU harus melakukan upaya-upaya penyelamatan pada agenda politik kebangsaan. Juga peningkatan program yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU).

Ia menyoroti kondisi politik bangsa yang menurutnya semakin karut-marut. “Pada pemilu 2004, partai peserta Pemilu berjumlah 24. Sedangkan, pemilu 2009 nanti, partai peserta pemilu bertambah menjadi 34. Ini, kan, membingungkan rakyat kecil, karena dulu konsepnya, jumlah partai akan menurun karena seleksi alam. Nyatanya, hal ini tidak terjadi,” jelasnya.

NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, hendaknya konsisten dalam jalur politik kebangsaan. Agar “rel” perjuangan NU tidak bergeser pada politik kekuasaan yang mengkhianati kepercayaan warga NU.

Tak hanya itu. Ali berharap agar potensi NU yang luar biasa dalam bidang keilmuan, terutama pemahaman kajian Islam klasik, tetap dilestarikan. “ Perlu ada kontekstualisasi dan penyegaran konsep, agar penguasaan kitab kuning yang dimiliki NU, mudah diterima dalam ruang zaman modern,” pungkasnya.

Disarikan dari http://www.nu.or.id

Read Full Post »

Refleksi Hari Anak

BERANI MENYUKSESKAN HARI TANPA TV?

TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti.

Aktivitas menonton TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb. Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.500 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama 1 tahun yang hanya sekitar 750 jam.

Secara umum adapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu:

(lebih…)

Read Full Post »