Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

Met Lebaran……………

Semua Kader PAC IPNU-IPPNU Nalumsari Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah,

Mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF SEGALA KESALAHAN BAIK LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG, TERLAHIRKAN MAUPUN TERBATINKAN, SENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA, INDIVIDU MAUPUN JAMA’AH, TERSISTEMKAN MAUPUN ASAL-ASALAN…… Salam

Read Full Post »

Turut berbelasungkawa atas wafatnya Almaghfurillah KH. Ma’ruf AsnawiKudus dalam usia ke-96tahun,  semoga diberikan tempat yang mulia di sisi Allah dan segala perjuangannya dapat diteruskan para kader-kader NU ke depan. Amien..

 

Teriring bacaan fatihah dan salam senantiasa terucap pada beliau….

(foto ketua PAC IPNU Nalumsari Jepara, Muh. Khamdan bersama beliau pada tahun 2005 akhir)

Read Full Post »

Muqoddimah Qta

Salam Juang!

 

 

Banyak sekali alasan hidup menjadi maju! Setiap orang ketika mengalami kegagalan dan kenyataan tidak sesuai dengan harapannya, hanya punya dua pilihan yaitu maju atau mundur. Keadaan sekarang, ketika BBM sudah dinaikkan oleh pemerintah yang tidak berperikerakyatan, mahalnya pungutan sekolah yang menindas, sampai “politik NU” yang kalah dipertaruhkan oleh birokratnya, dua pilihan di atas menjadi kian jelas dan menyusahkan.

Apapun alasannya, semangat maju mesti dijunjung, kepercayaan diri harus ditonjolkan. Hal ini terkait pengalaman dan proses motivasi bahwa keberadaan kita adalah pengindah waktu orang lain. Meskipun kita mengalami kegagalan, namun membuat manfaat bagi orang lain layak menjadi langkah yang menjadi jawaban atas pilihan tersebut. Dan inilah tantangan bagi kader muda NU untuk bisa menerjemahkan kondisi zaman dalam upaya membela kepentingan umat ketika berkembang penindasan sistem sosial sampai manipulasi dogma dalam kedok khittoh NU.

 Nah, inilah pentingnya memahami komitmen kerakyatan NU, di saat maraknya penurunan semangat berorganisasi ideal di kalangan muda NU.

Read Full Post »

Kisruh NU ke Kaum Mudanya…

Prahara Jalan Pemuda

Dari Geger Politik Hingga Perebutan Kuasa PC IPNU

Citra bersih partai dakwah memang mengagetkan kalangan NU. Pasalnya, ketika partai-partai yang dikelola elit NU sedang terpecah belah tak beraturan, partai itu justru menampilkan peningkatan dukungan dalam skala nasional. Akhirnya isu ideologi yang bermain dengan mengorbankan PAC IPNU Nalumsari “dibunuh” lewat pembekuan (12/10/07).

 

Kehadiran ketua PCNU Jepara di gedung MWCNU Nalumsari dalam pelantikan pengurus ranting NU se-Nalumsari (19/7/08), membawa kesan beda bagi kader PAC IPNU-IPPNU Nalumsari. Hal ini karena pernyataan langsungnya bahwa PAC ter-sebut telah berinteraksi dengan ideologi sesat “kaum berjenggot, PKS” yang tidak pernah diajarkan orang tua NU masa lalu.

Sehari setelah acara berakhir, bebera-pa pimpinan ranting NU meminta penje-lasan kebenaran pada ketua PAC IPNU Nalumsari, Muhammad Khamdan. Seba-gaimana Wiji, sekretaris Tanfidziyah ran-ting Pringtulis, pernyataan dalam pidato resmi itu justru menunjukkan ketidak-dewasaan elit NU menyikapi dinamika kebangsaan yang menjadi pembelajaran kaum muda NU, setelah mendapatkan penjelasan balik.

Kasus pembekuan yang terjadi era PC IPNU Jepara dipimpin Jauharudin, bersama timnya yang terdiri atas Nur Ijayani, Fuad Hasyim, Ainun Ni’am, Akhid Turmudzi, Syamsudin Rukyat, sebenarnya pernah dipublikasikan PAC IPNU Nalumsari lewat jawaban balik ke PCNU dengan No. 045/PAC/A/VII /7354/XI/07, tertanggal 18 Novem-ber 2007, yang juga dibubuhi nota dukungan 12 ranting se-Nalumsari terhadap PAC IPNU Nalumsari.

Dalam suasana kekalahan calon Gubernur Jateng usungan PCNU Jepara yang sempat dipromosikan dalam kegiatan “Revitalisasi Ekonomi NU Melalui Koperasi” di Nalumsari (30/5/08), pernyataan ketua PCNU lumrah terjadi. Artinya, itulah ketakut-an elit NU yang kepentingannya mulai terancam oleh kalangan luar.

(lebih…)

Read Full Post »

Menunda Ajal IPNU

Kita mesti bersyukur kepada Allah yang telah menjaga negara Indonesia beserta bangsanya untuk tetap berdaulat sampai pada 63 tahun, setidaknya berdaulat dalam aspek wilayah. Maklum, dari berbagai aspek kebangsaan hampir semuanya dikuasai asing.

Semasa sekolah, hampir setiap guru akan menasehati bahwa cerminan bersyukur dalam kehidupan berbangsa adalah dengan mewarisi semangat para pendiri bangsa, sebutlah jihad. Sebuah komitmen melawan pembodohan, pemiskinan, pemaksaan, dan penindasan. Kunci dari komitmen ini ialah lahirnya kepemimpinan teladan yang bersih, amanah, serta peduli terhadap kader atau nasib masyarakat yang ada di sekitarnya.

Tampilan atas model kepemimpinan di atas, ternyata mengalami kelangkaan di tubuh pengkaderan NU, hampir di semua tingkatan dan daerah. Sebutlah PC IPNU Jepara yang berkinerja “mandul” sampai menyeret ketua umumnya, Agus Supriyono, menjadi korban mosi ketidakpercayaan dari bawahannya sendiri, dan akhirnya mengundurkan diri di usia memerintah sekitar 8 bulan dari pemilihannya, yang mestinya 24 bulan di penghujung 2009.

Sekarang kita juga mewarisi tradisi intrik dan konflik yang tentunya disertai semangat suudzon antar birokrat NU di semua tingkatan. Pemilihan Gubernur di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur semakin memperjelas bahwa NU memang “manisan” yang layak dijadikan pemikat massa terbodohkan. Lebih parah lagi konflik yang menyerang di PKB, menjadikan kader NU mesti menutup muka karena malu. Tentu saja masyarakat mudah menyimpulkan bahwa elit maupun politikus NU selama ini, ternyata hanya memperjuangkan politik kekuasaannya saja, lupa dengan politik kerakyatan untuk membina kader-kader NU.

Akhirnya tantangan pengkaderan merupakan masalah penting di tubuh NU, karena di saat organisasi lain yang dituduh elit NU berbaju wahabi atau garis keras sedang melaju pesat, ternyata kader-kader NU sedang meratapi ajal yang setiap saat menjemput organisasinya.

Read Full Post »

Ramadhanan

Ingatkan Komitmen Keorganisasian,

Targhib Ramadhan PAC IPNU Nalumsari

Menyambut Ramadhan, kader-kader PAC IPNU dan IPPNU se-Nalumsari mengadakan targhib Ramadhan sekaligus peringatan kemerdekaan RI ke-63, Ahad (31/8). Acara yang dibentuk agar ada keharmonisan antara kader IPNU dengan IPPNU dimaksudkan juga untuk mengenalkan tokoh serta tempat yang terkait dengan NU, terutama untuk menjaga praktik ziarah kubur.

Sejak pukul 07.00, satu persatu kader IPNU dan IPPNU Nalumsari berdatangan di depan kantor Kecamatan Nalumsari mengawali dengan do’a bareng sekaligus koordinasi jelang Ramadhan, yang salah satunya juga menyangkut “Refleksi Setahun SK Pembekuan Atas PAC IPNU Nalumsari” (12/10/08). Kegiatan berlanjut dengan ziarah atau mengunjugi makam-makam terdekat di Nalumsari, makam Yik Nde Kriyan Kalinyamatan, Mantingan, transit di Gedung NU Jepara, dan shalat jama’ah di Masjid Agung Jepara.

“Kegiatan ini sangat berpotensi di-kembangkan dalam proses pembelajaran langsung bagi kader-kader agar lebih mengenal tokoh pendahulu NU dan tempat atau fasilitas yang berkaitan dengan NU.” Tutur ketua panitia kegi-atan, Zainal Arifin.

Menurut Kharis (22), salah satu peserta, kegiatan ini dapat membangun semangat keakraban dan penyatuan komitmen organisasi karena kita bisa secara bersama-sama merasakan terik-nya panas mentari, makan bareng, dan berselimut keceriaan dalam organisasi.

Read Full Post »

Kisruh PC IPNU Jepara

Mundur…

Awal pekan September tahun ini, publik internasional dikejutkan dengan mundur secara sukarelanya Perdana Menteri Jepang Fukuda, yang menyampaikan maaf tidak bisa memba-wa perubahan berarti bagi bangsanya, setelah popularitasnya jeblok.

Khusus bagi bangsa Jepang, kejujuran dan memegang komitmen dengan mengakui kekurangan diri merupakan tradisi yang sejak dulu dikenal. Hal demikian sebagaimana budaya bunuh diri membedah perut atau disebut harakiri, jika gagal menjalankan perintah.

Setelah terkejut dan sedikit bangga atas sikap Perdana Menteri Jepang tersebut, mendadak tersadarkan fenome-na di organisasi dan kehidupan Indonesia. Terbayang kembali ulah kepemim-pinan PC IPNU-IPPNU Jepara yang tidak menunjukkan kinerja berarti hampir 8 bulan memimpin. Padahal waktu sangat berharga, terlebih IPNU-IPPNU adalah organisasi kader yang mesti siap memasok calon pemimpin.

Struktural organisasi keduanya identik dengan kata” pimpinan”, dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, dan Pimpinan Ranting-Komisariat. Jelas dimaksudkan agar kaum muda NU me-mahami dirinya sebagai pemimpin.

Andaikan kesadaran sebagaimana budaya Jepang dimiliki bangsa Indonesia, maka akan didapat sosok pemimpin yang handal setelah melalui proses evolusi pengkaderan dengan kejujuran atas komitmen. Tidak perlu terbangun penggiringan opini bahwa pemimpin mesti kaum muda atau orang tua yang sudah berpengalaman.

Persoalannya sekarang, hampir semua tokoh di Indonesia merasa memiliki kemampuan untuk membawa kondisi lebih baik. Sebutlah mantan Presiden yang berhasil menjual PT Indosat ke tangan Singapore Technologies Telemedia (STT), yang telah menyebabkan kerugian yang tak terhitung sekaligus harga diri bangsa berdaulat yang hilang, ternyata masih PeDe mendeklarasikan sebagai calon presiden.

Hal demikian juga tampak pada presiden RI lainnya yang telah menaikkan BBM secara serampangan tanpa memahami kondisi riil masyarakat, sekaligus berbagai saham BUMN yang diobral ke tangan asing, ternyata dengan penuh kemantapan siap mencalonkan sebagai presiden RI. Alhasil, rakyat terbius dengan fenomena fatamorgana kebijakannya, karena bangsa Indonesia memang salah satu bangsa yang paling tinggi sifat maaf dan pelupa.

Semoga saja kesadaran mundur tidak dipraktikkan para penikmat cinta, yang karena bosan menggunakan dalih tidak mampu meneruskan hubungan, dan bergonta-ganti pasangan kasih lainnya.

Read Full Post »