Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2008

karikatur-politik-ipnu-ippnu-nalumsari-jepara-jawa-tengah

“Bersemilah-bersemilah tunas-tunas NU

Tumbuh subur, tumbuh subur kader-kader NU

Masa depan di tanganmu

Untuk meneruskan perjuangan

Bersemilah-bersemilah kau harapan bangsa”

 

Iklan

Read Full Post »

Pengantar Konferancab PAC IPNU-IPPNU Nalumsari

 tokoh-pemimpin-ipnu-nalumsari-jepara-jawa-tengah

 

Dalam pertandingan sepak bola, waktu terakhir adalah masa-masa gawat. Kesebelasan mana pun bisa kebobolan jika lengah di saat terakhir ini. Kurun yang sama kini akan dialami oleh PAC IPNU-IPPNU Nalumsari masa bhakti 2007-2009, yang digawangi Muh. Khamdan dan Lailatus Siyamah dengan jeda waktu sampai Januari 2009.

Di detik-detik terakhir proses pengkaderan kaum muda NU itu, kepengurusan sedang menuntaskan agenda akhir berupa pembekalan kader untuk kesiapan dan layak meneruskan struktural pengkaderan yang ada. Dan untuk itulah Diklat Kebangsaan sekaligus mimbar kebangsaan menjadi tajuk akhir dalam menguji sosok-sosok penerus estafet organisasi yang sempat menghebohkan kalangan Nu se-Jepara.

Banyak agenda yang telah dijalankan, demikian juga banyak kemitraan yang telah terbangun. Syahdan, kegiatan-kegiatan yang dijalankan sontak ikut mempengaruhi opini masyarakat terutama partisipan IPNU-IPPNU, dan nilai jual organisasi termuda NU tersebut.

Lalu, kenapa tidak diberi injury time (perpanjangan waktu)? Ah, semakin lama perpanjangan yang diberikan bagi organisasi pengkaderan, hanya memunculkan kemalasan dan lunturnya komitmen untuk bergerak. Untuk itu siapapun ketuanya, Jangan Henti Bergerak!

Read Full Post »

Siap Menjemput Perubahan

 

Perubahan yang melanda Amerika Serikat dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presidennya, ikut mengilhami bursa kandidat calon ketua PAC IPNU-IPPNU Nalumsari akhir-akhir ini.

Pergeseran paradigma organisasi mulai membentuk wacana bahwa PAC ke depan mesti concern dengan sektor ekonomi sebagaimana Zainal Arifin, seni dan kebudayaan seperti diungkap Muslimin, sampai organisasi pengabdian sosial yang menjadi wacana Haery Latifah. Tak urung, isu wacana keagamaan justru mendapatkan respon yang kurang dari para kader Nalumsari, kendati menjadi usungan kuat Rekan M. Kharis, mahasiswa Ushuludin STAIN Kudus.

Pemimpin adalah sosok yang menjadi panutan, penggerak, dan mampu menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya. regenerasi-kepemimpinan-indonesia-nu-jepara-jawa-tengah-nalumsariSebagaimana dikemuka-kan oleh Ki Hajar Dewantara dengan istilah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangu Karso, Tut Wuri Handayani. Maka membutuhkan konsepsi inti sebagaimana kepengurusan 2007-2009, mengusung visi “Pemberdayaan Dalam dimensi Kemitran”, tak ayal telah membangun jejaring relasi yang luas dalam berbagai sektor formal dan informal.

Hal demikian menjadi media pembelajaran kader selanjutnya agar semangat keterbukaan pemikiran, tidak tersekat dalam simbolisme formalistik aturan organisasi, yang justru menjebak para kader untuk berfikir kreatif sampai akhirnya menjauhkan jarak antara IPNU-IPPNU dengan problem masyarakat yang ada.

Read Full Post »

Who am I?

 

(Seni Kepemimpinan Membedakan Kawan atau Lawan) [1]*

 

 

pemimpin-dunia-ternama-dari-ipnu-nalumsari-jepara-jawa-tengahTema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi.

Term kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). Abraham Maslow mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia:  1). kebutuhan biologis, 2). kebutuhan akan rasa aman, 3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain, 4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan 5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik.

Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikatakan Plato dalam filsafat negara, lahir istilah kontrak sosial dan pemimpin atau kepemimpinan.

(lebih…)

Read Full Post »

Tradisi Keberagamaan NU

BELAJAR KEMBALI ATAS KEBERISLAMAN KITA

(Tradisi Keagamaan NU dan Keterbukaan Pemikiran) [1]*

 

Oleh Muh. Khamdan[2]**

 

Muqoddimah

Belakangan ini konflik dan suasana ironis keberagamaan di Indonesia masih tetap mendominasi dalam kehidupan masyarakat. Kekerasan kian mengemuka, terutama karena aksi-aksi teror lewat pengeboman yang mengiringi eksekusi Amrozi, cs, sweeping di luar kelompoknya, penyesatan kegiatan orang lain, dan bentuk kekerasan yang lain, termasuk aksi antrian zakat dank kurban yang sampai menewaskan sesama kaum miskin.

Bahkan pada akhirnya berkembang pandangan bahwa beragama itu sangat mudah. Jalan ke surga lebih mudah daripada ke neraka. Uneokonservatisme-islam-terorisme-nu-modernntuk mendapatkan tiket ke surga, seseorang cukup dengan meledakkan diri, meledakkan bom, membunuh manusia, mengancam nyawa, dan obral uang dengan haji atau ekspose kedermawanan melalui media massa. Hal ini kian mengembangkan anggapan bahwa Tuhan dan sorga harus ditebus dengan darah, nyawa, ketakutan, dan aliran air mata orang lain di atas kebahagiaan. Beragama seakan harus menyalahkan orang lain, menyusahkan orang lain, dan merusak lingkungan. [3]

Atas dasar realitas di atas, ada kesalahan besar antara doktrin agama yang semestinya membawa kesejahteraan bagi semesta, ternyata berdampak buruk dalam kenyataan. Oleh karena itu penting memahami penyebab semua paradoks (keterbalikan) keberagamaan tersebut.

(lebih…)

Read Full Post »

MEMPERTIMBANGKAN GAGASAN AGAMA CINTA

(Flashback atas Aswaja Indonesia) [1]*

 

Umatku di akhir zaman nanti akan terpecah-pecah menjadi 72 golongan…yang paling benar adalah golongan Ahlus Sunnah Waljama’ah”,

 

Muqoddimah

Awal tahun depan, Nahdlatul Ulama (NU) akan berusia 83 tahun, beruntun juga akan disusul IPNU yang ke-54, dan IPPNU ke-53.[2] Dalam usia yang menua tersebut, tantangan zaman tetap setia mengikuti, yaitu adanya kekerasan atas nama agama. Konflik keberagamaan pada saat ini, tetap saja menempati pemberitaan atas di segala jenis media massa. Bahkan kesan pemaksaan yang kerap disertai kekerasan secara gamblang juga terlihat dengan dalih penobatan. damai-itu-indah

Kenyataan di atas dapat dilihat ketika Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengeluarkan 12 butir pernyataan pertobatan, tuduhan tetap saja didapatkan. Belum lagi aksi kekerasan yang diberikan kepada Ahmad Moshaddeq (Al Qiyadah Islamiyah), Lia Eden (The Eden of Kingdom), Yusman Roy (dwi bahasa dalam sholat), dan sejumlah gerakan yang disinyalir sesat karena tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat secara umum. Ada hal yang dilupakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama ini. Bahkan akhirnya berkembang semangat dendam yang mungkin tiada ujung.

(lebih…)

Read Full Post »

Kritik Sosial

Antri

  antri-bbm-ipnu-nalumsari-jepara-jawa-tengah1

Awal Desember ini, masyarakat bisa sedikit lega meski cemas dengan turunnya harga Bensin menjadi 5.500/ liter. Lega karena konsumsi bensin dan bahan bakar lain semacam Pertamax kian turun, tetapi juga cemas karena minyak tanah yang selama ini menjadi “sahabat” hemat masyarakat pedesaan akan kian jauh keberadaannya, alias hilang, sehingga masyarakat tetap sabar mengantri untuk kepul asap dapur.

Khusus masyarakat Nalumsari sekitarnya, ancaman untuk tidak bisa “kencan” dengan minyak tanah kian menjadi-jadi. Ini sete-lah bergulir agenda konversi LNG besok Januari 2009, yang memaksa masyarakat meminta didata oleh aparat desa sampai kecamatan. Dan memang imbasnya masyarakat dipaksa mengantri.

Kecemasan kian diperparah dengan kelangkaan pupuk atau setidaknya terjadi pembatasan takaran pupuk kepada petani. Petani kecil yang biasa memakai 1 sak pupuk urea 50 kg, tak heran jika takaran pada masa antrian November kemarin, justru separohnya. Spontan masyarakat urung melanjutkan penanaman padi karena khawatir tidak bisa merawat benih akibat kurangnya pupuk yang didapatkan. Padahal, petani juga sudah menghabiskan waktu untuk antri mendapatkan kupon pengesahan dari aparat desa, sampai “berebut” mengambil pupuknya. Tapi toh hasilnya kurang menjamin pertumbuhan padi.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »