Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

Silaturrahim Halal Bi Halal

Silaturrahim Jadi Faktor Konsolidasi Sangat Penting

Halal Bi halal IPNU IPPNU Nalumsari JeparaSiapa pun ketua PAC IPNU-IPPNU Nalumsari mesti mempertimbangkan hubungan harmonis dengan organisasi dan elemen NU yang ada. Sebab, perjalanan organisasi pengkaderan adalah derivasi dari perjalanan sejarah pelaku organisasi di era sebelumnya sehingga tidak bias terpisahkan.

Untuk itulah dalam momentum lebaran tahun ini, jajaran pengurus PAC duet kepemimpinan Muslimin, S.Sos.I dan Eni Inayati, S.Pd.I mengadakan touring silaturrahim ke seluruh tokoh senior NU dan tokoh-tokoh pelaku IPNU-IPPNU masa-masa terdahulu.
“Silaturrahim adalah faktor sangat penting dalam konsolidasi organisasi, melihat PAC IPNU-IPPNU Nalumsari sampai sekarang ini statusnya masih “dibekukan” oleh PC IPNU-IPPNU Jepara. Sebanyak puluhan kader yang mewakili 16 Pimpinan Ranting ikut dalam rombongan yang dikomandoi Zainal Arifin.” kata Muhliyanto selaku humas dalam paparannya di kediaman mantan ketua IPNU nalumsari yang  lalu, Muh. Khamdan (23/9).

Mengingat pentingnya silaturrahim tersebut, Khamdan yang kini telah menjadi fungsional widyaiswara Depkumham RI di Jakarta menasehatkan agar para kader untuk tetap berinteraksi dengan semua elemen NU dan tetap konsisten menjalankan program sesuai dengan misi dan visi kepengurusan. Yaitu pemberdayaan dalam dimensi kemitraan sebagai kelanjutan era sebelumnya.

Iklan

Read Full Post »

Mudik Sebagai Jihad

Tentang Jihad Mudik Itu

[dimuat dalam Suara Merdeka, 19 september 2009. oleh. Muh. Khamdan, mantan ketua IPNU Nalumsari Jepara dan widyaiswara Depkumham RI]

mudik IPNU IPPNU nalumsari JeparaDi antara budaya asli bangsa Indonesia yang tidak akan ditemui di belahan negara mana pun adalah aktivitas mudik, yaitu kembali mengunjungi kampung halaman tanah kelahiran. Secara sosiologis mudik yang identik dengan Lebaran sehabis bulan Ramadan berfungsi sebagai pelestari identitas kaum muslim untuk bermaaf-maafan sekaligus menjadi alternatif pemenuhan kerinduan atau flash back tentang masa-masa awal pembangunan jati diri di daerah asal.

Namun setiap tahun akan selalu muncul pertanyaan yang dalam nalar sadar tidak akan ditemukan jawaban pasti. Mengapa mesti mudik? Mengapa mesti serentak menjelang Lebaran, bukankah banyak waktu lain kalau sekadar bermaafan kepada keluarga atau orang tua? Mengapa pemudik rela berdesak-desakan, mengantri tiket, bahkan menghabiskan semua tabungan selama setahun untuk mudik? Apa yang sebenarnya dicari para pemudik?

Bagi masyarakat yang tidak merasakan mudik, mungkin fenomena ini dianggap sebagai aktivitas sosial yang negatif, tidak produktif, dan hanya menghambur-hamburkan anggaran. Sebutlah semua instansi yang pemerintahan yang berkaitan dengan ketertiban, keamanan, dan pelayanan publik harus bekerja ekstra lembur untuk menghadapi fenomena tahunan tersebut. Namun bagi pemudik, aktivitas mudik adalah jihad yang mendapatkan legitimasi dalam perspektif teologi.

Jihad mudik dalam perspektif ini jelas akan dianggap hal yang mengada-ada. Namun mengacu pada penafsiran Profesor Quraish Shihab, jihad merupakan upaya pengerahan totalitas seseorang untuk kebaikan, maka mudik menjadi media jihad yang lebih emansipatoris, berpihak kepada upaya-upaya transformasi individu dan sosial dalam tiga cara pandang.

Pertama, masyarakat yang mudik menganggap langkahnya tersebut adalah suatu kewajiban untuk berterima kasih dalam menjalani perjalanan hidup. Mudik bukan sekadar bertemu keluarga dan sahabat, tetapi fitrah untuk mengingat darimana asal mendapatkan kehidupan. Selain kepada Tuhan, mudik akan menyadarkan bahwa kepada orang tua mesti mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kehidupan melalui jerih payahnya dalam membekali potensi sehingga mampu meraih ”sumber kehidupan” masa depan.
Di Bawah Tuhan Agama apa pun tentu berisi ajaran-ajaran, doktrin, dan peraturan mengenai tata cara hidup yang baik. Untuk itu, Islam menempatkan posisi orangtua persis di bawah Tuhan. Artinya, secara fungsional Islam mengatur penghambaan manusia terhadap Allah dan penghormatan manusiawinya dimanifestasikan terhadap orangtua. Karena begitu penting posisi dan peran orangtua, maka di dalam Alquran melalui Surat Al-Israa Ayat 23-26 dikatakan secara tegas jangan sampai berkata kasar atau memperlakukan dengan kasar serta anjuran untuk senantiasa sayang dan berterima kasih dengan cara mendoakan kebaikan terhadapnya. Fondasi dasar ini menegaskan kembali asal manusia untuk berlaku sopan, halus, dan penuh kasih sayang sebagaimana Erich Fromm menyebut dengan psikoanalistik humanistik.

Kedua, mudik adalah kembali kepada Tanah Air, daerah tempat lahir, atau mengenang kembali ”ibu bumi”. Kecintaan kepada tempat lahir atau daerah seringkali menjadi pemicu konflik sosial. Namun, dalam dakwah Wali Sanga konsepsi terbuka tentang ”ibu bumi” dikembangkan menjadi rumusan ”cinta Tanah Air merupakan bagian dari iman”. Dalam konsep ini, kecintaan kepada daerah dan bangsa dimanifestasikan sebagai etos dan kekuatan yang akan digunakan untuk menolak ancaman yang datang dari luar, sehingga antara satu daerah dengan daerah yang lain saling menguatkan. Georger De Vos (1975) melukiskan sebagai ekspresi perasaan kontinuitas masa lalu.

Semangat ini dapat dijumpai pada masyarakat Jepara yang kemudian tergerak untuk merespon konsistensi pemerintah dalam upanyanya membangun PLTN di Balong. Hal serupa jelas akan berpengaruh pada psikologis masyarakat Pati selatan yang selalu ”digoda” dengan pembangunan pabrik semen. Lebih lanjut, pergolakan batin para pemudik ketika mendatangi daerah kelahiran tentu akan dirasakan masyarakat Demak, Wonosobo, maupun Temanggung yang melihat perkembangan sektor agribisnis terkesan stagnan.

Beban psikologis dengan berbagai kenyataan di daerah masing-masing pada akhirnya akan memberi tugas serius bagi para pemudik untuk ikut membantu melanjutkan pembangunan daerah berdasarkan karakteristik wilayah dan kultur masyarakat lokal berdasarkan pengalaman di perantauan. Setidak-tidaknya pembahasan akan mengarah pada pemilahan jenis-jenis endogenous technology, antara lain teknologi budi daya flora dan fauna, teknologi pengolahan SDA terbarukan, teknologi herbal, bioteknologi, energi terbarukan, teknologi minyak dan gas bumi, teknologi pertambangan umum, teknologi pendukung industri pariwisata, teknologi kelautan, coastal engineering and management, teknologi perkapalan, teknologi material, teknologi informasi dan komunikasi, dan nanotechnology.

Ketiga, mudik menjadi upaya untuk mengembalikan fungsi transformasi agama secara praksis. Menurut Clifford Geertz, agama bukanlah sesuatu yang tunggal, tetapi terkepung dalam realitas objektif yang sangat memengaruhi, baik interpretasi maupun aktivitasnya. Untuk itu, mudik merupakan media untuk melakukan kritik kebudayaan atau sebagai bentuk pemusnah budaya yang destruktif di daerah setelah mengalami pertarungan psikologis dan sosiologis humanistik di perkotaan.

Dengan demikian, kiranya akan sangat produktif jika mudik juga dikampanyekan sebagai wahana jihad untuk melawan musuh-musuh Islam perspektif dunia modern, yaitu kebodohan, kesenjangan, kemiskinan, dan kerawanan sosial. Karenan sesungguhnya alternatif-alternatif atas masalah tersebut adalah kebersamaan dan transfer pengalaman serta kesetiakawanan masyarakat yang tentunya dapat didorong oleh para pemudik yang telah berinteraksi dengan kemajuan zaman di perantauan.

Mudik adalah kembali merenungi asal muasal kehidupan sehingga dapat melahirkan kearifan sosial dan lingkungan, mendukung perlindungan alam sehingga terjadi keseimbangan hidup yang harmonis. Dan kesemuanya akan berujung pada kepuasan untuk menyenangkan orang lain dengan langkah praksis transformasi fungsi etis agama. Sehingga muncullah jawaban bahwa yang dicari para pemudik adalah nilai spiritualitas untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan Tuhan dengan upaya penghapusan kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, dan kerawanan sosial. (35)

—Muh Khamdan, fungsional Widyaiswara BPSDM Depkumham RI dan pemudik

Read Full Post »