Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2010

Refleksi Harlah IPNU ke-55

Memperbaiki Wajah Muda NU

Kalangan muda NU tengah menanggung beban berat sebagai konsekuensi dari keberlanjutan pengkaderan NU yang diperoleh dalam tahun terakhir.

Hal ini disebabkan perilaku tokoh tua NU sendiri yang terkadang kebablasan dalam memanfaatkan potensi besar anggota jam’iyah NU tersebut. Tokoh tua begitu bersemangat membongkar apa yang terjadi di balik peristiwa politik atau kehidupan pribadi seseorang kaum muda NU sehingga mudah untuk memutus mata rantai pengkaderan. Demikian tanggapan Zainal Arifin, wakil ketua PAC IPNU Nalumsari Jepara menanggapi polemic lama tentang pembekuan PAC IPNU Nalumsari oleh Pimpinan Cabang IPNU Jepara

Perilaku itu membuat banyak pihak mulai bertanya-tanya, inikah bentuk atau corak langkah tokoh NU tua yang tidak mengayomi dan tidak memberikan komunikasi yang baik terhadap kader mudanya. Untunglah selama ini Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Nalumsari selalu mengawal dan memberikan pengarahan terhadap PAC Nalumsari kendati status pembekuannya belum dicabut.

Perilaku pers yang demikian bebas awalnya dianggap sekadar kegembiraan sesaat atau euphoria dari PC IPNU Jepara. Mengingat sebelumnya PAC IPNU Nalumsari terkekang oleh berbagai batasan karena kepengurusan tersekat pada penguatan kaderisasi internal, maka pada kepengurusan 2007-2009 oleh Muhammad Khamdan menjadi awal gebrakan untuk mengembangkan sayap program agar PAC IPNU-IPPNU  Nalumsari bias dikenal secara luas.

Refleksi setahun kepengurusan 2009-2011 yang dihadiri lebih dari 200 orang ini dilaksanakan pada Rabu (10/2/10) bersamaan dengan prosesi pelantikan Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Daren. Prosesi serah terima kepengurusan mengamanatkan Rekan Muttaqin sebagai ketua IPNU dan Rekanita Zulfa Ning’un.

Dalam sambutannya, Gus Ripin mengatakan bahwa menyambut bulan Harlah IPNU dan IPPNU yang ke-55 dan ke-54 besok akan dideklarasikan Majelis Alumni IPNU-IPPNU Nalumsari atas kerjasama para alumni yang telah dikoordinasi Rekan Zainal Anwari, mantan wakil ketua PAC IPNU Nalumsari. Sesungguhnya Bulan Harlah 24 Pebruari dan 2 Maret merupakan momentum perbaikan bagi pengkaderan generasi muda NU semua.

Read Full Post »

Alumni IPNU Usulkan Ahlul Halli wal Aqdi untuk Pimpinan NU

Rabu, 27 Januari 2010 09:01

Jakarta, NU Online

Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) melalui forum Rakernas I yang diselenggarakan 31 Januari-1 Februari 2010 akan merumuskan pola baru pemilihan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

“Muncul usulan dari para alumni agar pemilihan ketua tanfidziyah PBNU pada Muktamar di Makassar Maret nanti dilakukan melalui pola ahlul halli wal aqdi atau penunjukan oleh syuriyah,” ungkap Sekretaris Jenderal Majelis Alumni IPNU Dr Asrorun Ni’am Sholeh usai rapat panitia pengarah Rakernas di Jakarta Selasa (26/1).
Usulan tersebut menurut Niam muncul sebagai hasil dari refleksi atas perjalanan PBNU selama ini. Fungsi dan peran syuriyah perlu dikuatkan sebagai pemegang otoritas tertinggi organisasi.
“NU itu dari namanya saja sudah jelas, sebagai organisasi ulama. Ulamalah yang harus mengambil peran utama perjalanan organisasi,” ungkapnya.
Teknis pemilihan dengan pola baru ini, imbuh Niam, tiap-tiap wilayah dan cabang NU nanti akan menetapkan 9 nama. Dari hasil rekap akan dicari 33 nama ulama  yang akan menjadi ahlul halli wal aqdi melalui sistem suara terbanyak.
“Baru setelah itu 33 orang ahlul halli wal ‘aqdi yang menjadi anggota Majelis Syuriyyah akan menetapkan ketua pelaksana harian PBNU dengan dibantu wakil-wakil ketua bidang. Jadi pelaksana harian itu hanya menjalankan kebijakan dan garis yang ditetapkan syuriyyah,” kata Pengasuh Pesantren Model al-Nahdlah Depok ini.
Lebih lanjut Niam menegaskan bahwa reformasi sistem pemilihan ini sangat mendesak untuk dilakukan sebagai koreksi atas sistem yang berlaku selama ini, yakni dengan sistem voting satu delegasi satu suara.
“Selama ini proses pemilihan hanya mengejar prosedural demokrasi namun luput dari substansi yang dituju. Sistem ini melahirkan tirani kaum kapital yang meneggelamkan kewibawaan Ulama, di mana sang calon harus kasak kusuk memperebutkan suara terbanyak”, ujarnya.
Dengan sistem pemilihan secara paket, tambahnya, semangat kebersamaan akan semakin terjaga dan fragmentasi akan terminimalisasi.
Sistem pemilihan langsung, menurut Niam tidak cocok dengan khittah organisasi yang mengedepankan supremasi Ulama. “Nilai yang dikembangkan NU dalam kepemipinan adalah amanah, sehingga nilai yang dominan adalah pengabdian atau khidmah. Prinsip pemilihan langsung dengan pencalonan diri akan kontraproduktif dengan nilai khidmah dalam kepemimpinan NU ini,” ujar Niam.
Selanjutnya Niam menjelaskan bahwa pelaksanaan pilkada langsung di berbagai daerah yang melahirkan cukong-cukong politik harus menjadi pelajaran bahwa demokrasi yang hanya mengejar partisipasi prosedural akan berdampak buruk yang bisa jadi akan menjadi arus balik yang membahayakan demokrasi itu sendiri.
“Untuk itu, NU harus menjadi motor pendobrak demokrasi prosedural menuju demokrasi substantif, dengan pendekatan kualitatif, diawali dengan reformasi internal model pemilihan pimpinan yang mengedepankan prinsip kebersamaan,” pungkasnya.

Read Full Post »

Alumni IPNU Anggap Pemakzulan Mudhorot

Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) telah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I pada Minggu 31 Januari 2010. Acara yang dimaksudkan sebagai ajang nostalgia dan pemantapan langkah aktivis alumni IPNU juga membahas berbagai persoalan pelik yang tengah melanda bangsa Indonesia saat ini.

Acara tersebut turut pula dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.  “Wacana pemakzulan kepemimpinan juga menjadi bahasan yang sedianya akan diusung dalam forum Bahtsul masail. Namun karena dirasa pemakzulan adalah langkah yang penuh madharat, maka tidak jadi dibahas lebih lanjut.” ujar Sekjen Majelis Alumni IPNU, Asrorun Ni’am Sholeh , Minggu (31/1/2010).

Nia’m menjelaskan, persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia sudah terlalu banyak, diharapkan pertemuan dengan para tokoh dan alumni NU tersebut bisa melahirkan solusi-solusi cerdas bagi Indonesia. “Tentu kita berharap yang terbaik buat bangsa ini, termasuk dilema perkembangan NU menjelang Muktamar ke-32 di Makasar” pungkasnya.

Rakernas tersebut berlangsung di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, selama 2 hari. Penutupan kegiatan beserta pembacaan rekomendasi dibacakan pada jam 10 hari Senin, 1 Pebruari 2010.

Para tokoh NU yang  hadir di antaranya Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, Ketua PBNU KH Said Agil Siradj, KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua DPW NU Jatim, KH Ali Maschan Musa, dan mantan Ketua Umum PP GP Anshor Slamet Effendi Yusuf.

(dari berbagai sumber)

Selamat Rakernas. semoga jalan membangun Majelis Alumni IPNU dapat diimplementasikan samapi di pelosok negeri guna menghimpun barisan yang berserakan..

Read Full Post »