Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘komunitas’ Category

Munculnya beberapa sekolah yang tak mau menghormat pada bendera Merah Putih dan membaca teks Pancasila serta UUD 1945 pada saat upacara, merupakan wujud nyata tanmtangan atas nilai-nilai kebangsaan yang harus ditangkal oleh IPNU-IPPNU sebagai kader muda NU yang nasionalis.

Zainal Arifin, pengasuh pengajian rutin IPNU-IPPNU Ranting Pringtulis mengatakan hal tersebut, Ahad (12/11) di Masjid Al-Muttaqien Desa Pringtulis Kecamatan Nalumsari Jepara. Terkait adanya hal itu, pria yang juga mantan Plt. Ketua PAC IPNU Nalumsari periode 2009-2011 ini akan menyerukan semua kader CBP PAC IPNU Nalumsari untuk menggelar aksi kesetian terhadap Merah Putih.

“Kader-kader IPNU dan IPPNU harus dibina wawasan kebangsaan dan pilar-pilar kebangsaan agar memiliki semangat nasionalisme dan religius mewarisi semangat para pendiri NU.

Iklan

Read Full Post »

Reaksi Terorisme

Indonesia kembali berduka.

Sedikitnya dua atau tiga bom diledakkan oleh orang-orang yang bertujuan keji di Kawasan Mega Kuningan Jakarta, 17 Juli 2009. Belum usai benar pesta demokrasi yang berjalan aman dan damai, harapan yang mulai tumbuh harus kembali dihancurkan oleh ulah segelintir orang yang tidak menghendaki Indonesia membangun harapan.

Tentu saja kita marah, sebab rasa aman kembali terusik.

Tentu saja kita marah, sebab ekonomi yang mulai pulih harus kembali terganggu.

Tentu saja kita marah, sebab nama baik Indonesia kembali tercoreng.

Dengan ini, Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan menyatakan:

1. Berduka sedalam-dalamnya atas jatuhnya korban pada aksi peledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton

2. Mengutuk sekeras-kerasnya aksi peledakan bom yang tak bertanggung-jawab itu;

3. Mendesak pemerintah mengusut tuntas pelaku peledakan;

4. Mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewujudkan sumpahnya untuk secepat mungkin menangkap dan mengadili pelaku, jaringan dan otak di belakang setiap aksi kekerasan;

5. Menghimbau masyarakat untuk tidak terpancing provokasi;

6. Dalam pengusutan atas teror nanti, hendaknya dihindarkan penyalahgunaan kekuasaan dan hendaknya selalu diindahkan hak-hak asasi sesama.

Teror kita lawan karena kita mencintai Indonesia yang demokratis dan sejahtera – Indonesia yang sedang kita bangun hari ini.

Jakarta, 18 Juli 2009

Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan

Read Full Post »

Kandidat Ketua Umum Fair Action

Minggu, 21 Juni 2009

BREBES – Seluruh kandidat calon ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU) diminta bersaing secara sehat. Persaingan seharusnya tetap mengedepankan aturan organisasi, nilai dan norma yang berlaku.

Demikian pula, persaingan seharusnya tidak menggunakan praktik politik uang (money politic) sebagaimana telah ditegaskan Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH Hasyim Muzadi, dalam pidato pembukaannya, Sabtu (20/6) kemarin.

(lebih…)

Read Full Post »

Hasil Akhir Lomba Karya Sastra
PAC IPNU IPPNU Nalumsari
(Cipta Puisi dan Penulisan Cerpen: Dalam Ruang Kebangsaan)

Setelah melalui tahapan penilaian dewan penyeleksi dan dewan penilai, maka berikut ini kami sampaikan pemenang lomba karya sastra PAC IPNU-IPPNU Nalumsari.

A. Kategori penulisan cerpen
1. Mufarichah “Sepuntung Rokok Kretek”
2. Atik Amrina Sofa “Dekapan Ibu di Bawah Bendera”
3. Arundina Apriyani “Sorban Menggantung”

B. Kategori penulisan cerpen
1. Lukman Hakim “Tangis”
2. Saiful Umam “Sujud Kaki Pertiwi”
3. Ika Wahyu “Deru Asap Jalanan”

Demikian ini disampaikan, terima kasih atas partisipasinya semua dan dukungan dari berbagai pihak.

Panitia

Read Full Post »

Kisruh PC IPNU Jepara

Mundur…

Awal pekan September tahun ini, publik internasional dikejutkan dengan mundur secara sukarelanya Perdana Menteri Jepang Fukuda, yang menyampaikan maaf tidak bisa memba-wa perubahan berarti bagi bangsanya, setelah popularitasnya jeblok.

Khusus bagi bangsa Jepang, kejujuran dan memegang komitmen dengan mengakui kekurangan diri merupakan tradisi yang sejak dulu dikenal. Hal demikian sebagaimana budaya bunuh diri membedah perut atau disebut harakiri, jika gagal menjalankan perintah.

Setelah terkejut dan sedikit bangga atas sikap Perdana Menteri Jepang tersebut, mendadak tersadarkan fenome-na di organisasi dan kehidupan Indonesia. Terbayang kembali ulah kepemim-pinan PC IPNU-IPPNU Jepara yang tidak menunjukkan kinerja berarti hampir 8 bulan memimpin. Padahal waktu sangat berharga, terlebih IPNU-IPPNU adalah organisasi kader yang mesti siap memasok calon pemimpin.

Struktural organisasi keduanya identik dengan kata” pimpinan”, dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, dan Pimpinan Ranting-Komisariat. Jelas dimaksudkan agar kaum muda NU me-mahami dirinya sebagai pemimpin.

Andaikan kesadaran sebagaimana budaya Jepang dimiliki bangsa Indonesia, maka akan didapat sosok pemimpin yang handal setelah melalui proses evolusi pengkaderan dengan kejujuran atas komitmen. Tidak perlu terbangun penggiringan opini bahwa pemimpin mesti kaum muda atau orang tua yang sudah berpengalaman.

Persoalannya sekarang, hampir semua tokoh di Indonesia merasa memiliki kemampuan untuk membawa kondisi lebih baik. Sebutlah mantan Presiden yang berhasil menjual PT Indosat ke tangan Singapore Technologies Telemedia (STT), yang telah menyebabkan kerugian yang tak terhitung sekaligus harga diri bangsa berdaulat yang hilang, ternyata masih PeDe mendeklarasikan sebagai calon presiden.

Hal demikian juga tampak pada presiden RI lainnya yang telah menaikkan BBM secara serampangan tanpa memahami kondisi riil masyarakat, sekaligus berbagai saham BUMN yang diobral ke tangan asing, ternyata dengan penuh kemantapan siap mencalonkan sebagai presiden RI. Alhasil, rakyat terbius dengan fenomena fatamorgana kebijakannya, karena bangsa Indonesia memang salah satu bangsa yang paling tinggi sifat maaf dan pelupa.

Semoga saja kesadaran mundur tidak dipraktikkan para penikmat cinta, yang karena bosan menggunakan dalih tidak mampu meneruskan hubungan, dan bergonta-ganti pasangan kasih lainnya.

Read Full Post »

Pengurus Baru PC IPNU Jepara?

Politik Identitas di PC IPNU Jepara 

Pasca pemilihan ketua PC yang berlangsung 24 Desember kemarin, PAC IPNU Nalumsari mencatat ada politik identitas dalam kepengurusan PC mendatang, yaitu peremajaan para pengurus, apalagi dominansi pusat kuasa.

 Identitas baru membuat spirit organisasi menguat, namun bisa jadi pertanda bahwa generasi tua akan menyetir seolah kader embek. Hal itu dikemukakan Khamdan dalam tasyakuran kader di desa Daren (7/3). Tinggal kepandaian nahkodanya

Read Full Post »

Sekali Lagi Pembekuan

 Pembekuan PAC IPNU Nalumsari dinilai “Berhenti”

Membekukan PAC IPNU Nalumsari tidak memiliki dasar kekuatan kembali, dengan demikian “berak organisasi” yang pernah dilemparkan perlu dicuci.

Ketua PAC IPNU Nalumsari, M. Khamdan, dalam pertemuan dengan beberapa Pimpinan Ranting (PR) di Pringtulis, Sabtu (1/3), mengatakan, pengurus yang menerbitkan SK telah lengser, sedangkan caretaker yang ditunjuk tidak bekerja dalam tempo yang ditentukan, pun mayoritas PR juga menolak pembekuan dengan nota pe-nolakan yang telah diedarkan ke pusat.

Sebelumnya, Sukarno dan Khamdan menemui Ketua PC IPNU Jepara terpilih, Agus Supriyono, di Bangsri (18/2) untuk mengetahui sikap PC IPNU Jepara ke depan. “Yang penting komunikasi tetap berlangsung”, komen-tar ketua PC yang pernah nyantri di Jekulo Kudus itu.

Terkait perwakilan PAC IPNU Nalumsari dalam kepengurusan PC, Agus mengatakan,”IPNU Nalumsari tidak memiliki wakil, karena tidak mengirimkan rekomendasi perwakil-annya”. “Ini sebagai syarat internal kepengurusan di PC”. Tegasnya

PAC IPNU Nalumsari memang telah bersikap untuk tidak mengakui kader jika ada di kepengurusan PC IPNU. Namun, mempersilakan kader IPPNU Nalumsari masuk dalam kepengurusan periode ini. “Sebagai imbas tidak berartinya delegasi PAC IPNU Nalumsari di PC IPNU”. Tutur ketua PAC IPPNU, Lailtus Siyamah yang senada dengan pembina IPNU, Masrukhan secara terpisah (8/3). 

Saat ini PAC IPNU Nalumsari ingin memfokuskan pada program-program penyiapan kader untuk tingkat ranting maupun PAC sendiri. “Adanya dinamika membuat kita lebih dewasa”, tutur Zainal Arifin, ketua IPNU Pringtulis. (Prisma, Edisi 9/ Maret 2008)

Read Full Post »

Older Posts »