Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘news’ Category

MUI akan Keluarkan Fatwa soal Tato

Jumat, 2 Juli 2010 12:54

Jakarta, NU Online Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan akan mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan tato yang melekat dalam tubuh manusia yang menjadi salah satu tren gaya hidup. Fatwa mengenai tato ini akan dibahas terlebih dahulu dalam Munas MUI yang akan digelar pada bulan Juli ini. Selain tato, persoalan lain yang akan dibahas adalah mengenai vaksin meningitis, hipnotis, kenehan jenis kelamin, dan bank organ tubuh manusia. Hal ini disampaikan Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam usai bertemu Wakil Presiden Boediono di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (1/7). Ichwan mengatakan, usulan fatwa itu muncul dari pertanyaan masyarakat. MUI kemudian mengkajinya. Bagaimana hukumnya dalam Islam tentang pembuatan lembaga yang menampung organ-organ tubuh manusia. Menurut Ichwan, MUI mengeluarkan fatwa berdasarkan permintaan masyarakat. Kemudian, MUI mendata dan mengkajinya sesuai dengan hukum Islam. “Itu pertanyaan masyarakat melalui surat maupun ada juga yang datang ke MUI,” ujarnya. Munas MUI ke VIII akan digelar pada 25 Juli-28 Juli 2010 mendatang di Jakarta Convention Center. Rencananya munas akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Read Full Post »

PARAMADINA FELLOWSHIP 2010
“The Gateway for a Bright Future”

Universitas Paramadina bekerjasama dengan para dermawan Indonesia untuk “ketiga kalinya”, memberikan beasiswa kepada siswa-siswi lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau SEDERAJAT yang memiliki potensi akademis maupun non-akademis untuk mengikuti pendidikan (S-1) di Universitas Paramadina, pada Program Studi :

* Manajemen dan Bisnis
* Falsafah dan Agama,
* Ilmu Komunikasi,
* Psikologi,
* Hubungan Internasional,
* Teknik Informatika,
* Desain Komunikasi Visual
* Desain Produk Industri.

Kualifikasi:
————

* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau SEDERAJAT dari seluruh Indonesia.
* Siswa kelas 3 atau lulusan SLTA atau SEDERAJAT, dengan nilai rata-rata NEM/UAN, STTB, dan Raport Kelas I, II dan III, minimum 7,50.
* Termasuk 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 4 (empat) semester.
* Tanggal lahir 1 Januari 1987 dan setelahnya.
* Memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan, mudah bersosialisasi, serta beretika tinggi.
* Aktif dalam kegiatan organisasi intra dan ekstra sekolah.
* Mampu berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
* Memahami dan menyetujui semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam program beasiswa ini **

**) Ketentuan yang berlaku:
———————————

1. Penerima beasiswa harus menyelesaikan masa kuliah dalam kurun 4 tahun kalender akademik.
2. Siswa yang tidak mendapatkan nilai IPK minimal 3,00 selama dua semester pada saat perkuliahan, dinyatakan gagal dan tidak lagi memperoleh beasiswa untuk penyelesaian sisa masa studi.
3. Nominasi ini akan gugur dengan sendirinya apabila siswa/pendaftar dinyatakan tidak lulus UAN.
4. Tidak sedang menerima beasiswa untuk Pendidikan Tinggi.
5. Tidak boleh menerima beasiswa lain, selama menjalani PF.

Proses Pendaftaran:
———————-

Formulir pendaftaran dapat diperoleh di Bagian Informasi Universitas Paramadina tanpa dipungut biaya atau dapat di download di website kami :

http://www.paramadina.ac.id/downloads/Fellowship/Formulir_PF_2010.pdf

Formulir Pendaftaran yang sudah diisi diserahkan sebelum batas waktu yang ditentukan dengan disertai :

1. Satu halaman tulisan yang berjudul “Saya di Tahun 2025” dan satu halaman tulisan berjudul “Pengalaman Pahit Saya.” (Petunjuk dan lembar essay terlampir).
2. Dua surat rekomendasi yaitu dari Kepala Sekolah atau Tokoh Masyarakat dan Guru. (Form surat rekomendasi terlampir).
3. Fotocopy transkip nilai (dilegalisir) :

* Untuk Lulusan SLTA
o Fotocopy NEM
o STTB
o Ijazah
o Raport Kelas 1, 2, dan 3

* Untuk Siswa SLTA Kelas 3
o Raport Kelas 1, 2, dan 3.

4. Fotocopy Sertifikat Penghargaan yang pernah diraih.
5. Satu foto berwarna ukuran 3 x 4 cm
6. Fotocopy Kartu Identitas (KTP)
7. Fotocopy Kartu Keluarga.

Catatan :
———-

* Formulir dan kelengkapan dokumen pendaftaran, dapat diserahkan langsung ke Bagian Informasi Universitas Paramadina (Senin – Jum’at 09.00 – 16.00 WIB dan Sabtu 09.00 – 13.00 WIB) atau dikirim melalui pos.
* Kami tidak menerima pengembalian formulir dan berkas pendaftaran melalui e-mail.

Batas Waktu Pendaftaran:
——————————

Batas akhir penyerahan formulir dan berkas pendaftaran Program Paramadina Fellowship 2010 adalah :

* Melalui pos, dengan stempel pos, 10 April 2010.
* Langsung diantar ke Universitas Paramadina, 17 April 2010.

Dana Beasiswa:
—————–

Paramadina Fellowship 2010, dengan nilai beasiswa sebesar Rp. 125.000.000 (seratus duapuluh lima juta rupiah) mencakup pendanaan :

* Dana transportasi dari tempat asal menuju ke Universitas Paramadina.
* Biaya studi selama 4 tahun kalender akademik. Penerima beasiswa diharapkan dapat menyelesaikan studi, maksimal 4 tahun.
* Dana aktivitas kemahasiswaan sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah).
* Tunjangan buku 1 juta rupiah per-semester.
* Biaya hidup (living allowance) sebesar 1 juta rupiah per-bulan.**
* Disediakan asrama, wajib tinggal selama 2 tahun atau 4 semester berturut-turut.**
* Kemungkinan pelatihan dan magang selama studi, di perusahaan Donor.
* Peluang kesempatan kerja atau tawaran kerja dari Donor, setelah menyelesaikan studi S-1.

**) Keterangan:
——————

Penerima beasiswa dari wilayah Jabodetabek, berhak atas biaya hidup dan wajib tinggal di asrama.

Informasi:
———–

Untuk memperoleh informasi Paramadina Fellowship 2009,

Sdri. Lina & Riri
Telp. +62 21 7918 1188 Ext. 888/200

Sdri. Muna
Telp. +62 21 7918 1188 Ext. 232/235

Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
Telp. +62 21 7918 1188
Fax. +62 21 799 3375

fellowship@paramadina.ac.id
http://paramadina.ac.id/fellowship.html

Read Full Post »

Alumni IPNU Usulkan Ahlul Halli wal Aqdi untuk Pimpinan NU

Rabu, 27 Januari 2010 09:01

Jakarta, NU Online

Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) melalui forum Rakernas I yang diselenggarakan 31 Januari-1 Februari 2010 akan merumuskan pola baru pemilihan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

“Muncul usulan dari para alumni agar pemilihan ketua tanfidziyah PBNU pada Muktamar di Makassar Maret nanti dilakukan melalui pola ahlul halli wal aqdi atau penunjukan oleh syuriyah,” ungkap Sekretaris Jenderal Majelis Alumni IPNU Dr Asrorun Ni’am Sholeh usai rapat panitia pengarah Rakernas di Jakarta Selasa (26/1).
Usulan tersebut menurut Niam muncul sebagai hasil dari refleksi atas perjalanan PBNU selama ini. Fungsi dan peran syuriyah perlu dikuatkan sebagai pemegang otoritas tertinggi organisasi.
“NU itu dari namanya saja sudah jelas, sebagai organisasi ulama. Ulamalah yang harus mengambil peran utama perjalanan organisasi,” ungkapnya.
Teknis pemilihan dengan pola baru ini, imbuh Niam, tiap-tiap wilayah dan cabang NU nanti akan menetapkan 9 nama. Dari hasil rekap akan dicari 33 nama ulama  yang akan menjadi ahlul halli wal aqdi melalui sistem suara terbanyak.
“Baru setelah itu 33 orang ahlul halli wal ‘aqdi yang menjadi anggota Majelis Syuriyyah akan menetapkan ketua pelaksana harian PBNU dengan dibantu wakil-wakil ketua bidang. Jadi pelaksana harian itu hanya menjalankan kebijakan dan garis yang ditetapkan syuriyyah,” kata Pengasuh Pesantren Model al-Nahdlah Depok ini.
Lebih lanjut Niam menegaskan bahwa reformasi sistem pemilihan ini sangat mendesak untuk dilakukan sebagai koreksi atas sistem yang berlaku selama ini, yakni dengan sistem voting satu delegasi satu suara.
“Selama ini proses pemilihan hanya mengejar prosedural demokrasi namun luput dari substansi yang dituju. Sistem ini melahirkan tirani kaum kapital yang meneggelamkan kewibawaan Ulama, di mana sang calon harus kasak kusuk memperebutkan suara terbanyak”, ujarnya.
Dengan sistem pemilihan secara paket, tambahnya, semangat kebersamaan akan semakin terjaga dan fragmentasi akan terminimalisasi.
Sistem pemilihan langsung, menurut Niam tidak cocok dengan khittah organisasi yang mengedepankan supremasi Ulama. “Nilai yang dikembangkan NU dalam kepemipinan adalah amanah, sehingga nilai yang dominan adalah pengabdian atau khidmah. Prinsip pemilihan langsung dengan pencalonan diri akan kontraproduktif dengan nilai khidmah dalam kepemimpinan NU ini,” ujar Niam.
Selanjutnya Niam menjelaskan bahwa pelaksanaan pilkada langsung di berbagai daerah yang melahirkan cukong-cukong politik harus menjadi pelajaran bahwa demokrasi yang hanya mengejar partisipasi prosedural akan berdampak buruk yang bisa jadi akan menjadi arus balik yang membahayakan demokrasi itu sendiri.
“Untuk itu, NU harus menjadi motor pendobrak demokrasi prosedural menuju demokrasi substantif, dengan pendekatan kualitatif, diawali dengan reformasi internal model pemilihan pimpinan yang mengedepankan prinsip kebersamaan,” pungkasnya.

Read Full Post »

Alumni IPNU Anggap Pemakzulan Mudhorot

Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) telah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I pada Minggu 31 Januari 2010. Acara yang dimaksudkan sebagai ajang nostalgia dan pemantapan langkah aktivis alumni IPNU juga membahas berbagai persoalan pelik yang tengah melanda bangsa Indonesia saat ini.

Acara tersebut turut pula dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.  “Wacana pemakzulan kepemimpinan juga menjadi bahasan yang sedianya akan diusung dalam forum Bahtsul masail. Namun karena dirasa pemakzulan adalah langkah yang penuh madharat, maka tidak jadi dibahas lebih lanjut.” ujar Sekjen Majelis Alumni IPNU, Asrorun Ni’am Sholeh , Minggu (31/1/2010).

Nia’m menjelaskan, persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia sudah terlalu banyak, diharapkan pertemuan dengan para tokoh dan alumni NU tersebut bisa melahirkan solusi-solusi cerdas bagi Indonesia. “Tentu kita berharap yang terbaik buat bangsa ini, termasuk dilema perkembangan NU menjelang Muktamar ke-32 di Makasar” pungkasnya.

Rakernas tersebut berlangsung di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, selama 2 hari. Penutupan kegiatan beserta pembacaan rekomendasi dibacakan pada jam 10 hari Senin, 1 Pebruari 2010.

Para tokoh NU yang  hadir di antaranya Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, Ketua PBNU KH Said Agil Siradj, KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua DPW NU Jatim, KH Ali Maschan Musa, dan mantan Ketua Umum PP GP Anshor Slamet Effendi Yusuf.

(dari berbagai sumber)

Selamat Rakernas. semoga jalan membangun Majelis Alumni IPNU dapat diimplementasikan samapi di pelosok negeri guna menghimpun barisan yang berserakan..

Read Full Post »

Gerakan Dukung Gus Dur Jadi Pahlawan Muncul di Facebook

Kamis, 31 Desember 2009 11:22
Besarnya peran dan perjuangan Gus Dur bagi bangsa Indonesia telah mendorong masyarakat dan sejumlah lembaga untuk meminta pemerintah menganugerahi mantan ketua umum PBNU ini sebagai pahlawan nasional.

PBNU, PKB dan PPP dan PMII telah mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional ini. Upaya pemcarian dukungan juga dilakukan di jejaring sosial Facebook. Sebuah akun grup berjudul ‘Dukung Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Menjadi Pahlawan Nasional’ muncul tak lama setelah Gus Dur menghembuskan nafas terakhir.

Akun ini dibuat oleh PMII Cabang Sleman tak lama setelah Gus Dur meninggal dan sampai sekitar pukul 08.30, telah beranggotakan sekitar 150 orang.

“Menilik sejenak ke belakang, tidak sedikit jasa dan kiprah beliau terhadap peradaban bangsa dan dunia. Tokoh humanisme ini mampu mempersatukan beraneka ragam kemajemukan dan perbedaan yang ada. Walhasil, kedamaian pun tercipta, kelompok-kelompok minoritas dan marginal dapat merasa tenteram,” demikian tertulis dalam akun tersebut.

“Bukanlah gelar Pahlawan Nasional yang diinginkan Gus Dur. Namun, mungkin hanya sekadar gelar itulah yang bangsa ini dapat berikan terhadap Guru Bangsa ini,” jelas inisiator grup tersebut.

Menanggapi gagasan tersebut, segenap alumni PAC IPNU-IPPNU Nalumsari Jepara juga menyerukan ke semua jajaran yang didukung kepengurusan aktif PAC Nalumsari untuk menyukseskan gagasan tersebut. langkah tercepat adalah mmebangun opini publik untuk menggalang dukungan dari berbagai komunitas NU agar bersatu mengusulkan KH Abdurrahman wahid sebagai pahlawan nasional.

Read Full Post »

Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1431 H

Sambut Tahun Hijriyah, PAC IPNU-IPPNU Nalumsari Gelar Tausiah

Pergantian tahun Hijriyah disambut dengan penuh suka cita umat Muslim di Tanah Air. Keluarga besar PAC IPNU-IPPNU Nalumsari di seluruh ranting akan memperingati datangnya Tahun Baru 1431 Hijriyah, dengan menggelar do’a syura dan tausiah bersama secara serentak sehabis sholat Ashar.

”Sebagaimana tradisi di kalangan NU, kita selalu memperingati dengan melakukan doa syura, tausiah bersama secara serentak di masjid-masjid di seluruh wilayah Nalumsari,” ungkap Ketua PAC IPNU, Muslimin, kepada Prismanalumsari di Gedung MWCNU Nalumsari, Kamis (17/12). Muslimin mengimbau agar peringatan Tahun Baru Hijriyah tak hanya sebatas seremonial belaka.

Menurut dia, seluruh kader PAC IPNU-IPPNU Nalumsari harus memaknai Tahun Baru Hijriyah sebagai momentum untuk mengevaluasi diri. ”Saatnya pengurus di semua tingkatan dan kader-kader melakukan muhasabah atau evaluasi sehingga ke depan, dapat melakukan perbuatan yang lebih baik dan menghindari hal-hal yang munkar dan dibenci oleh Sang Mahakuasa,” tutur Muslimin menegaskan.

Di tengah kondisi bangsa yang hiruk-pikuk, papar dia, setiap umat harus mulai mengevaluasi diri masing-masing. Dengan begitu, kata dia, pada tahun Hijriyah yang akan datang, kehidupan masyarakat akan lebih tenteram, damai, sejahtera, dengan tingkat keimanan yang makin tinggi.

Ketua PAC IPPNU, Eni Khusniati, mengungkapkan, Tahun Baru Hijriyah merupakan momen untuk melakukan pertobatan dan bertekad untuk berbuat yang lebih baik, dibandingkan tahun sebelumnya. ”Inilah saatnya untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Sehingga, kegagalan, kesalahan, dan kekurangan di masa lalu akan diperbaiki.”

Eni menyeru agar kader-kader Islam melakukan pertobatan secara serius. ”Hal-hal yang sifatnya upacara atau seremonial dan cenderung pada pemborosan, hendaknya dihilangkan pada peringatan Tahun Baru Hijriyah,” ungkap Eni.

Baik Muslimin maupun Eni juga mengajak agar pola-pola hidup pragmatis individual  serta organisasi dihilangkan pada tahun mendatang, terlebih agar keberadaan IPNU-IPPNU di Kecamatan Nalumsari tetap berkibar walau status pembekuan dari PC IPNU-IPPNU Jepara ternyata tidak menghentikan langkah kegiatan yang ada.  Bahkan selama ini PAC IPNU-IPPNU semakin dekat dengan masyarakat dalam nuansa kemitraan luas yang telah dibangun.

Read Full Post »

Mengawal “Masinis” PW IPNU Jateng yang Baru

Menjaga ketakziman kepada para ulama (Berharap kepada Ketua IPNU Jateng baru) Pimpinan Wilayah IPNU (Ikatan Pelajar NU) Jawa Tengah baru saja menggelar suksesi Akbar di Ponpes al- Ishlah Mangkang Semarang, 28-30 November yang lalu. Rekan Muhaimin dari Wonosobo akhirnya memimpin tampuk kepemimpinan PW IPN…U Jawa Tengah 2009-2012.

Rekan Muhaimin menyampaikan pidato pascaterpilihnya, bahwa perjalanan IPNU ke depan harus menekankan proses kaderisasi sebagai wujud ketakziman kita kepada para ulama pendiri jamiyah NU. Ada idealisme emosional yang ingin dijaga rekan Muhaimin. Ruh masa lalu, dalam bentuk idealisme nilai (values) merupakan akar solidaritas sosial yang akan menjamin umur panjang organisasi.

Tag line ’’kaderisasi” yang menjadi tema kampanye selama Konferwil jelas membutuhkan indoktrinasi gerakan. Bila tidak kaderisasi hanya akan memperbesar balon yang mudah meletus. Besar tapi ringan, besar tapi mudah bubar.

Sosiolog besar Islam Ibn Khaldun berujar dalam Muqoddimahnya: ’’Apabila suatu negara yang telah tua umurnya dan para pembesarnya yang merepresentasikan solidaritas sosial sudah tidak mendukungnya, maka solidaritas yang baru akan merebut kedaulatan negara”. Konteks negara
Ibn Khaldun ini dapat kita gunakan untuk memotret organisme sosial di luar negara. Di sisi lain, titik kulminasi NU, 20 tahun mendatang dapat dibaca dari
kaderisasi yang berjalan di IPNU hari ini. Bila IPNU hari ini besar dan
bertaring, maka masa depan NU 30 tahun mendatang sebagai kekutan sosial
terjamin. Namun sebaliknya, tatkala proses kaderisasi IPNU hari ini
macet, maka NU menunjukkan gejala maturitasnya.

Keberpihakan terhadap pelajar Sebagai anak NU, sah-sah saja IPNU mengklaim diri sebagai ormas pelajar terbesar di Jawa Tengah, terlebih di Pantura. Namun, bukan persoalan besar dan kecil, namun kontribusi nyata IPNU dalam bidang pendidikan yang patut dipertanyakan. Gerakan IPNU harus mengadvokasi pelajar.

Ideologi IPNU mengedepankan keberpihakan kepada pelajar. IPNU harus
mengidentifikasikan dirinya dengan jelas, memilih karakter, paradigma
dan ideologi perjuangan dalam indoktrinasi organisasi. IPNU tidak boleh bergerak mengalir bersama arus kekuasaan ataupun kekuatan politik tertentu. IPNU harus mengabdi kepada values, kepada cita-cita agama. Islam bergerak dalam nalar ideologi sosial, nilai- nilai yang berpihak kepada yang dhuafa. Islam bukan sistem nilai yang netral yang bergerak dalam rasionalitas yang dangkal. IPNU harus berdiri dalam idealisme memperjuangkan hak-hak kaum pelajar, bukan bersikap netral.

Sebagai contoh dalam kasus UN (Ujian Nasional), sikap IPNU dari awal tegas
menolak UN. IPNU juga lantang menyuarakan keadilan bagi madrasah dan
pesantren yang selama ini dianaktirikan. Dalam ruang keberagaman sistem
pendidikan inilah, IPNU harus bergerak. Contoh lain, adalah pelajar
yang dikeluarkan dari sekolah karena kasus narkoba, perkelahian, hingga
hamil di luar nikah. Bukan melegitimasi kesalahan tersebut, namun
pelajar-pelajar ini membutuhkan advokasi yang serius demi masa
depannya. Negara seringkali melakukan kekerasan baik normatif dan
simbolik terhadap warganya, termasuk kaum pelajar.

IPNU harus tanggap dan belajar memahaminya. Tanpa idealisme perjuangan ala pelajar ini, IPNU akan kehilangan ruh dan kemudian mati. IPNU hanya akan menjadi ormas yang menghamba kepada kepentingan-kepentingan sesaat. Tanpa karakter, sebuah organisasi telah kehilangan kedaulatannya. Dirinya tidak lagi berfungsi sebagai rahmat dan barokah bagi kehidupan, namun sebuah entitas yang setiap saat mudah dibeli.

IPNU harus belajar dari proses kelahiran NU yang memperjuangankan kedaulatan Islam madzab dari gerakan Islam ala wahaby yang ingin meletakkan kuasa legitimasi secara sepihak. NU lahir dari solidaritas sosial kegamaan
untuk merdeka dari penjajahan Islam ala wahaby. Maka, tak heran,
gerakan NU akan berdesak-desakan dengan gerakan wahaby dalam kehidupan
sosial kita. IPNU juga harus belajar dari kelahiran dirinya sendiri. IPNU tidak
diinisiasi oleh NU, oleh kaum tua, namun IPNU lahir mandiri dari idealisme masa muda Prof Tholhah Manshoer.

Pak Tholhah, dikenang sebagai seorang idealis yang berdiri tegak berdesak-desakan dengan kepentingan Orde Baru. Beliau menjadi bagian dari sedikit aktivis yang tidak tunduk kepada rezim Soeharto, walaupun dirinya mengalami
pemarginalan peran dalam karir dan kehidupan sosialnya. IPNU juga harus belajar dari Gus Dur. NU di bawah kepemimpinan Gus Dur menjadi the last bastion of civil society. Demikian Daniel Dhakidae mengapresiasi posisi oposisi NU di era 90-an.  Gus Dur dengan lantang memimpin kedaulatan perjuangan NU yang berpihak kepada keadilan peran masyarakat bawah secara luas. Bukan tunduk kepada keadilan yang diciptakan rezim.

Pertanyaannya pentingnya, masuk generasi manakah kader-kader IPNU hari ini? Benar, NU telah menciptakan generasi penikmat bagi elit-elitnya. Namun,
kemiskinan begitu dekat dengan warga NU di desa-desa. Elit-elit IPNU memiliki pilihan untuk larut menjadi generasi penikmat, sebagai besarnya posisi tawar NU dalam ranah politik nasional.nasional. Bila demikian, IPNU mendekat kepada generasi yang lalai terhadap ideology perjuangan para pendiri NU. IPNU harus mengambil bagian dalam menjaga pusaka itu.

Read Full Post »

Older Posts »