Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘pesan-trend’ Category

Kado Buruk Kelahiran IPNU

 

 

Akhir Pebruari dan Awal Maret, semestinya merupakan hari terindah bagi kader IPNU dan IPPNU di seluruh Indonesia karena memperingati hari kelahirannya. Tapi bagi kader di wilayah Kota Ukir, Jepara, hari-hari itu terasa kelabu di tahun ini karena dikejutkan adanya rencana Konferensi Cabang (Konfercab) 3 bulan ke depan, guna memaksa mundur kepemimpinan Haji Munawir di tengah periodenya, dari yang seharusnya tuntas sampai akhir Desember 2009.

Tak berhenti sampai di situ. Sebuah tamparan bernama “tidak adanya pengakuan sah” atas kepengurusan juga ditimpakan atas Haji Munawwir. Kenyataan ini sungguh menciderai proses pengkaderan sekaligus pemilihan ketua sebagai kelanjutan dari pengurus sebelumnya, Agus Supriyono, yang dipaksa mundur lewat kudeta 1 “surat tak bertuan” di Gedung NU Jepara (09/08). Nalar berorganisasi penuh intrik serta saling menyudutkan benar-benar berkembang dalam akal oknum PC IPNU Jepara. Mungkin saja benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.bom-waktu-meledak

Hari ini, di tengah kehidupan masyarakat yang butuh pemberdayaan, kader-kader muda NU telah terhipnotis dengan budaya intrik para sesepuhnya. Kenyataan ini justru akan membawa malapetaka dalam proses kaderisasi karena organisasi-organisasi di luar NU akan bergerak pada penciptaan solusi atas substansi kebutuhan masyarakat, tetapi kader NU sibuk saling melukai.

PAC IPNU-IPPNU Nalumsari memiliki kesadaran kolektif bahwa adanya komitmen bersama, konsistensi, kreativitas, dan pencitraan melalui produk yang konkret, akan mempengaruhi munculnya kompetisi produktif sesama kader. Bukan saatnya lagi konflik internal muncul hanya karena aspek sektarian serta ideologi, tetapi mesti dibangun dalam frame pengkaderan bahwa musuh bersama adalah oknum yang menindas, memaksa, serta mengedepankan kekerasan.

Sudah saatnya disadari bahwa siapapun yang mau berkomitmen dalam kegiatan IPNU dan IPPNU tentu berniat untuk memajukan NU. Dan mesti menjadi pegangan, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tidak bosankah konflik itu-itu saja? n

Read Full Post »

Integritas Organisasi

Integritas

Haji Uun, nama ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jepara terakhir ini. Dapat dipastikan, para kader ataupun yang “sok” aktivis IPNU-IPPNU masih asing mengenal sosoknya. Maklum, per-edaran nama dan ki-prahnya masih sebatas kalangan terbatas, apalagi belum pernah ikut Makesta, Lakmud, atau Lakut.
Keberadaannya sebagai pengisi bang-ku kosong ketua PC IPNU Jepara, erat hubungannya dengan jaminan dukung-an dari Dewan Kerja Cabang Corp Barisan Pelajar (DKC-CBP Jepara). Tak heran, posisi tertinggi IPNU di Jepara tersebut sempat membuat iri kader lain yang ambisius.komitmen-nalumsari-jepara
Roni selaku komandan CBP Jepara, telah menutup saluran suksesi PC IPNU Jepara agar tidak liar. Penga-ruhnya luar biasa. Orang-orang yang sakit hati seperti berlomba-lomba pamit dari gedung sakral NU di Jalan Pemuda. Itulah akibatnya, PC IPNU Jepara hanya menyisakan 6 orang saja.
Berkat langkah yang diambil DKC CBP Jepara itu, PAC IPNU-IPPNU Nalumsari memberi penghormatan ke-pada CBP Jepara dengan membentuk Satuan Kerja Kecamatan (SKK) CBP dan Korp Kepanduan Putri (KKP) lewat Diklat Kebangsaan di Ponpes Arridlwan Tritis (13-14/12/2008). Bersamaan dengan itu, PAC Nalum-sari memberi penghor-matan kepada Haji Uun untuk memberikan sam-butan dan ramah tamah dalam Mimbar Kebang-saan di Gedung MWC-NU Nalumsari (30/12/ 2008). Penghormatan tersebut bersa-maan dengan hadirnya M. Rif’an (Wakil Ketua GP Anshor Jawa Tengah) dan KH. Khalwani (DPD RI asal Jateng).
Tetapi apa yang terjadi pada fungsionaris PC IPNU Jepara? Konon, kemesraan dengan PAC Nalumsari yang menjadi pemicu upaya pelengseran Haji Uun. Hal demikian juga dialami pada kawan kuliah ketua PAC IPNU Nalumsari yang baru, seolah-olah tidak diperkenankan rapat menyangkut hu-bungan dengan Nalumsari. Apakah substansi permasalahan sebenarnya?
Jika perjalanan PC IPNU Jepara semacam itu terus, dimanakah makna integritas bagi mereka? Para pelajar tentu ingat peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika orangtua IPNU-IPPNU mengajarkan budaya intrik, pembekuan, dan pecat seenak udel, maka anaknyapun akan melakukan hal yang demikian.

Read Full Post »

Tradisi Keberagamaan NU

BELAJAR KEMBALI ATAS KEBERISLAMAN KITA

(Tradisi Keagamaan NU dan Keterbukaan Pemikiran) [1]*

 

Oleh Muh. Khamdan[2]**

 

Muqoddimah

Belakangan ini konflik dan suasana ironis keberagamaan di Indonesia masih tetap mendominasi dalam kehidupan masyarakat. Kekerasan kian mengemuka, terutama karena aksi-aksi teror lewat pengeboman yang mengiringi eksekusi Amrozi, cs, sweeping di luar kelompoknya, penyesatan kegiatan orang lain, dan bentuk kekerasan yang lain, termasuk aksi antrian zakat dank kurban yang sampai menewaskan sesama kaum miskin.

Bahkan pada akhirnya berkembang pandangan bahwa beragama itu sangat mudah. Jalan ke surga lebih mudah daripada ke neraka. Uneokonservatisme-islam-terorisme-nu-modernntuk mendapatkan tiket ke surga, seseorang cukup dengan meledakkan diri, meledakkan bom, membunuh manusia, mengancam nyawa, dan obral uang dengan haji atau ekspose kedermawanan melalui media massa. Hal ini kian mengembangkan anggapan bahwa Tuhan dan sorga harus ditebus dengan darah, nyawa, ketakutan, dan aliran air mata orang lain di atas kebahagiaan. Beragama seakan harus menyalahkan orang lain, menyusahkan orang lain, dan merusak lingkungan. [3]

Atas dasar realitas di atas, ada kesalahan besar antara doktrin agama yang semestinya membawa kesejahteraan bagi semesta, ternyata berdampak buruk dalam kenyataan. Oleh karena itu penting memahami penyebab semua paradoks (keterbalikan) keberagamaan tersebut.

(lebih…)

Read Full Post »

Spirit Ekonomi Santri

Mengembalikan Spirit Ekonomi Santri

Menjual Khazanah Berbasis Ekonomi

 

Oleh. Muh. Khamdan, S.Pd.I

 

 

Berbagai problem kemanusiaan seperti kemiskinan dan kelaparan sering terbiarkan tanpa adanya tawaran solusi dari kaum agamawan, termasuk di dalamnya adalah pesantren dan kader muda NU. Frame berfikir masyarakat masih terfokus pada surga dan neraka “simbolik”, belum pada keberagamaan yang bersifat praksis membebaskan.

 

 

 Krisis ekonomi yang telah meruntuhkan relasi sosial memaksa masyarakat Indonesia untuk saling berebut lapangan kerja yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan kesejahteraan hidup.

Tuntutan hidup sejahtera merupakan tuntutan universal bagi seluruh manusia karena menyangkut kebutuhan biologis untuk menyambung hidup berupa makan, minum, berteduh, dan berpakaian. Karena itulah, ketika kebutuhan dan kesempatan mendapatkan tuntutan kebutuhan hidup tidak berimbang, maka muncul konflik sosial akibat persaingan dan frustasi yang mengarah pada agresi.

wanita-cantik-pekerja-kerasPersaingan memperebutkan lapangan kerja pada akhirnya memilah dua golongan besar di dalam masyarakat, yaitu masyarakat berijazah formal dan berijazah non-formal atau lebih identik dengan masyarakat berijazah dan tidak berijazah. Dari sini, kalangan pesantren mendapatkan tantangan besar karena sangat minim bisa memperoleh lapangan kerja di dalam sektor industri modern karena bekal dan kemampuan yang dimiliki hanya terbatas pada pemahaman agama dengan sedikit bekal kemampuan praktis lapangan kerja, tak jarang melupakan ijazah akademik.

(lebih…)

Read Full Post »

Komunikasi Organisasi

Komunikasi Sebagai Kemajuan Organisasi

 

 

Komunikasi berasal dari kata communicare yang dalam bahasa Latin berarti berpartisipasi, atau berasal dari kata communnes yang memiliki makna sama (common). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa seorang berkomunikasi adalah orang yang berharap agar orang lain dapat ikut berpartisipasi atau bertindak sama, sesuai dengan kebutuhan, tujuan, harapan atau isi pesan yang akan  disampaikannya. [1]

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain, di mana proses itu melibatkan beberapa komponen, yaitu sumber, komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek atau pengaruh.[2] Hal itu juga dikemukakan oleh Phil Astrid Sutanto bahwa komunikasi merupakan proses pengoperan dan penerimaan pesan yang mempunyai arti. [3]

Dengan demikian, komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Hal ini menunjukkan bahwa objek komunikasi tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga proses pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik (public attitude), yang sangat berkaitan dengan kehidupan sosial dan politik masyarakat luas. Maklum, proses tersebut bisa mengubah perilaku orang lain. [4]

(lebih…)

Read Full Post »

REVITALISASI SISTEM EKONOMI PANCASILA
Teori dan Praktek Pengentasan Kemiskinan

 

Pendahuluan

Revitalisasi Ekonomi. Mungkin inilah jawaban dari “kemiskinan” yang dialami bangsa kita. Tetapi, ekonomi yang seperti apa? Jika jawabannya adalah “Ekonomi Pancasila,” maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana sistem Ekonomi Pancasila serta bagaimana ia beroperasi di Indonesia? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di setiap perbincangan kemiskinan dan pengangguran di negara kita. Sebab, jawaban dari pertanyaan kemiskinan selalu berujung pada konsep dan implementasi sistem ekonomi seperti apa yang paling cocok diterapkan di Indonesia.

kemiskinan-masal-bajaj-anak-nalumsari-jepara-jawa-tengahKemiskinan memang menjadi problem utama bangsa kita sejak lama. Terutama sejak masa penjajah kolonial Belanda. Imperialisme Belanda menghisap seluruh SDA yang kita memiliki. Penghisapan kekayaan negara mengakibatkan kemiskinan sehingga masyarakat tidak memiliki aset dan alat produksi. Kemiskinan tersebut diperparah oleh etos kerja dan kultur masyarakat yang lemah.

(lebih…)

Read Full Post »

Agama Tanpa agama

Membangun Agama Cinta

 ukhuwah.gif Apakah agama yang anda peluk adalah yang paling benar serta menjamin kebahagiaan dunia dan kehidupan mendatang? Bagaimana dengan agama lainnya, apakah tidak mem-berikan kebahagiaan bagi pemeluknya? Mengapa Tuhan menciptakan banyak agama jika ke-semuanya menyeru keagungan Tuhan?Dalam agama setidaknya ada tiga elemen, yaitu keyakinan atas Tuhan, ritual, dan komunitas. Ketuhanan merupakam sentral agama sehingga manusia merasa perlu mendapat-kan restuNya, terhindar dari murkaNya. Karenanya, manusia melaksanakan serangkaian ritual, tentu berdasarkan keyakinan terhadap Tuhannya. Sementara, komunitas dibutuhkan agar institusi keagamaan punya kekuasaan memaksa publik konsisten menjaga nilai-nilai agama. Identitas dalam komunitas tersebut kian mewujud beda karena keyakinan yang berbeda. Identitas yang mulanya hanya sebatas pembeda antara “kami” dan “kalian”, berkembang menjadi “benar” dan “salah”. Maka, merebaklah sebutan kafir, murtad, sesat, atau atheis.Pemahaman keliru tentang identitas akhirnya menjadi problem serius. Dalam melihat komunitas lain, yang diungkap adalah keberbedaannya, bukan kesamaannya. Dalam Islam, yang diungkap adalah salat subuh berqunut atau tidak? Membaca al-Fatihah dengan basmalah atau tidak? Jarang menjumpai kondisi di mana yang disampaikan adalah kesamaan dan kesatuan: Tuhan, nabi, dan kitab sucinya satu.

Agama bagaikan istri. Istri kita mungkin tidak secantik istri tetangga. Istri tetangga boleh jadi tidak seseksi istri kita. Tidak perlu sibuk bertanya, mengapa istri tetangga lebih cantik, begitu juga tetangga tidak perlu mempermasalahkan, mengapa istrinya tidak seseksi istri kita. Biar tetangga sibuk dengan istrinya, agamanya, dan biar kita sibuk dengan istri kita, agama kita. Itulah yang nantinya melahirkan agama kecintaan kita sendiri tanpa mempermasalahkan agama orang lain. Dan terwujudnya misi rahmatan lil alamin.

Read Full Post »

Older Posts »