Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘sastra’ Category

Hasil Akhir Lomba Karya Sastra
PAC IPNU IPPNU Nalumsari
(Cipta Puisi dan Penulisan Cerpen: Dalam Ruang Kebangsaan)

Setelah melalui tahapan penilaian dewan penyeleksi dan dewan penilai, maka berikut ini kami sampaikan pemenang lomba karya sastra PAC IPNU-IPPNU Nalumsari.

A. Kategori penulisan cerpen
1. Mufarichah “Sepuntung Rokok Kretek”
2. Atik Amrina Sofa “Dekapan Ibu di Bawah Bendera”
3. Arundina Apriyani “Sorban Menggantung”

B. Kategori penulisan cerpen
1. Lukman Hakim “Tangis”
2. Saiful Umam “Sujud Kaki Pertiwi”
3. Ika Wahyu “Deru Asap Jalanan”

Demikian ini disampaikan, terima kasih atas partisipasinya semua dan dukungan dari berbagai pihak.

Panitia

Read Full Post »

Malam dimanapun tetap sama. Dari lereng gunung yang terkepung angin lembah, kampung-kampung kecil yang tak beraspal, sampai perkotaan yang dilangit-langitnya terpantul gerakan sinar bergoyang-goyang memacu halusinasi orang untuk meliuk-liuan sekujur tubuhnya.
Malam tetap akan gelap, senyap, dan terkadang pengap yang diyakini sebagai fenomena alam atas rotasi bumi, sekaligus perputaran angin, akibat sesaknya panas di daratan pada siang hari, menyusul terjadinya angin darat. Keadaan itu setidaknya dirasakan sesosok lelaki yang gerah sesak untuk tidak terantuk dua kali. Lelaki yang secara fisik baru berpisah dengan pubertas dan berontak meledakkan asmara menghisap aroma birahi.
Ahh, mengapa harus difikir, bukankah selama… ini ketololan dan kesejahteraan yang tersandung ketamakan penyebabnya,bukankah………..
Lelaki itu hanya membatin dalam hati ketika mengarahkan kedua bola matanya ke tepian ruas jalan, 150 meter dari jantung kota beraroma tembakau, kendati tidak akan pernah dijumpai tanaman aslinya.
Di tepi jalan, di teras toko itu banyak tangan-tangan kecil menggoda sekaligus merengek melucuti kemanusiaan orang-orang bergelimang harta yang kadang terbungkus kesinisan agar hartanya tidak boleh didownload. Kini, mereka pulas di atas selembar kertas yang sering dibuang orang di tong sampah.
Masih dengan bungkam sambil memainkan gigi gerahamnya, lelaki itu berdiri persis dibawah lampu 3 warna partai orde baru, di samping baliho perusahaan ternama dikota itu. Kenyataan tentang kemiskinan dan telantarnya anak-anak bangsa yang dilihatnya pada siang hari itulah yang menyebabkan lelaki dengan tubuh sedang, berkacamata, bertampilan sederhana, dan mulai putih rambut di kepalanya menjadi kewalahan memejamkan mata.
“Entah dosa apa yang kau lakukan sehingga harus hidup di jalanan ini. Mungkin inilah imbas perbuatanmu dan keluargamu sehingga Tuhan mengganjar kemelaratan. Mungkinkah ini memang takdirmu?” dengan analisa konservatif, lelaki itu hanya berputar-putar pada alasan Tuhan, takdir dan alam.
“bukan,…bukan kalian yang berdosa atau, tetapi keadaan yang terbangun memaksa kalian seperti ini.” bisiknya.
Itulah kegelisahan yang menggerayangi benak fikir dn menghantui dalam alam bawah sadarnya. Pertanyaan itu memang tidak perlu difikir serius, tetapi munculnya pertanyaan untuk memahami, menjajaki, atau meramalkan realitas tersebut menyisakan suatu hal yang tiada ternilai harganya karena mampu menjadi obat penasaran alam bawah sadarnya.
(lebih…)

Read Full Post »