Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘telusur klasik’ Category

makam Ki Ageng Pandanaran“Sial,” gerutuku ketika menginjakkan kaki di Terminal Induk Terboyo Semarang, yang masih menyisakan lumpuh karena rob yang melandanya. Dengan menyincing celana, aku melangkahkan kaki menuju bus kota yang parkir di bagian selatan terminal.
“Simpang lima, simpang lima,” teriak salah seorang kernet bus kota. Aku pun segera melangkahkan kaki naik. Masih banyak tempat duduk yang kosong. Akhirnya aku duduk melepas kepenatan setelah hampir dua jam perjalanan dari Kudus ke Semarang.
Semarang, begitu nama kota yang lahir sejak 458 silam. Kota yang penuh dengan aktifitas dalam setiap menitnya, rupanya masih meninggalkan budaya berupa makam Ki Ageng pandanaran, yang terletak di kawasan Mugas Dalam kota Semarang.
Bau limbah yang menyengat serta semrawutnya arus mobilitas di terminal Terboyo seakan memusingkan kepala para pendatang yang baru pertama kali. Setelah menuju “kota lama” akan terlihat deretan gedung-gedung tua dengan icon utama Gereja Blenduk dan gedung “Lawang Sewu”. Tak jauh dari kota lama, kita akan memasuki pusat kota (Simpang lima). Dimana banyak kendaraan berlalu lalang mengitari bundaran alun-alaun simpang lima. Setting kota peninggalan orde baru masih terlihat di kota ini, masjid agung Baiturrohman yang kelihatan besar dan megah, sebagai pusat peribadatan di kepung dengan gedung-gedung ‘pencuci mata’ seperti mall Ciputra, Mall Matahari, Mall Ramayana, dan gedung pencakar langit lainnya. Di sekitar kawasan inilah terdapat lokasi makam Ki Ageng pandanaran, peletak batu pertama kota Semarang.
Dari masjid Baiturrahman ke makam Ki Ageng Pandanaran, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Dari Masjid Baiturrohman, anda akan menyusuri jalan Pandanaran di sebelah selatan Masjid menuju arah barat sepanjang 200 m. Sesampainya di depan Toko Buku Gramedia, sebuah belokan kecil akan menuntun anda ke arah makam Ki Ageng Pandanaran. Selama dalam perjalanan, anda akan melihat pemandangan kantor harian sore Wawasan, kampus Stikubank dan kantor Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah (kawasan Mugas). Untuk selanjutnya, anda akan menempuh perjalanan panjang yang terjal, naik turun bukit dan jalan berundak yang mengantarkan anda menuju Jl. Mugas II di mana Ki Ageng Pandanaran di makamkan.
Pangeran Mande Pandan atau yang sering di kenal Ki Ageng Pandanaran adalah putra dari Kanjeng Gusti Pangeran Harya Madya Pandan (Syeikh Maulana Ibnu Abdus Salam). Harya Madya Pandan merupakan keturunan Sultan Demak II, Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor). Konon, menjelang masa uzur pemerintahan Pati Unus, Harya Madya Pandan ingin dicalonkan oleh beberapa petinggi kerajaan Demak karena beliau adalah pewaris keturunan Sultan Demak II.
Akibat ketidak cenderungannya terhadap harta dan kekuasaan, Harya Madya Pandan meninggalkan kawasan kerajaan Bintoro Demak untuk berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur, Seangkatan dengan salah satu putra Sunan Ampel, Raden Mahdum Ibrohim (Sunan Bonang). Karena waktu itu, hanya di Ampel Denta Surabaya yang berdiri Pondok Pesantren (sekitar 1520 M).
Pada waktu yang tidak begitu lama, Harya Madya Pandan atau Maulana Ibnu Abdus Salam mendapatkan titah oleh gurunya untuk berdakwah di sekitar daerah kelahirannya, pesisir pantai Demak. Maka, Harya Madya Pandan menindak lanjuti dengan “membubak” (merombak) kawasan tepi pantai yang berstruktur tanah buruk untuk menjadi pusat kontrol dan koordinasi penyiaran agama Islam. Kini daerah itu dikenal dengan “Bubakan”. Estafet pemekaran wilayah dilanjutkan oleh putranya yakni Pangeran Mande Pandan )Ki Ageng Pandanaran II)
Keberhasilan Ki Ageng Pandanaran II meluaskan cakupan wilayah “Bubakan” menjadikan beliau dianggap sebagai pendiri daerah baru itu. Struktur komposisi tanah yag kurang subur, oleh Sunan Kalijaga sebagai gurunya, menyarankan untuk menanami pohon Asem (jenis pohon yang konon mampu merubah unsur hara didalam tanah menjadi berimbang, mampu dijadikan sebagai tempat berteduh, dan buahnya berkhasiat sebagai obat). Sarannya, agar pohon tersebut ditanam dengan berjarak arang-arang (jarang). Akibat adanya dua unsur kata, yaitu “Asem” dan “arang-arang”, maka daerah pengembangan yang dilanjutkan oleh Ki Ageng Pandanaran dikenal dengan kota Semarang. Oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Jawa Tengah, hari kelahiran kota tersebut bertepatan pada tanggal 2 Mei 1547 (abad 16 M). “Itu adalah perkiraan sejarah yang saat ini sudah menjadi dokumen resmi Pemerintah sekaligus menjadi agenda rutin setiap tahun.” kata H. Sukardiyono (pengurus makam Ki Ageng Pandanaran).
Makam yang terletak di kawasan Mugas Dalam Rt 7/III semula memiliki corak bangunan kuno yang khas Semarang, unsur kolonialisme yang berkukuh hampir 350 tahun memberikan dampak buruk terhadap eksistensi makam Ki Ageng Pandanaran II. Belanda berupaya untuk mengubur habis segala peninggalan yang terkait dengan Islam atau budaya yang berseberangan dengan budaya Belanda yaitu Kristen. Maka, penghancuran dan pendirian gereja untuk mengepung budaya asli pribumi menjadi sebuah keniscayaan oleh Belanda dan penjajah yang lain.
Desain ruang kota yang ada dalam wilayah “kota lama” merupakan saksi, bahwa kolonial Belanda berusaha mengepung masyarakat pribumi dengan banyaknya gereja-gereja yang didirikan. Hal tersebut juga terjadi pada kompleks makam Ki Ageng Pandanaran I dan II. “semua itu kami tetap bersemboyan becik ketitik ala kethoro”. tutur Kardiyono generasi ke-17 dari Ki Ageng Pandanaran II.
Menurutnya, peninggalan bangunan bukanlah hal yang penting, begitupun peninggalan-peninggalan yang lainnya, seperti keris ataupun batu-batuan berharga. Benda-benda tersebut peninggalan Ki Pandanaran saat menjadi Adipati Semarang I yang cukup kaya. Selain itu, Ki Ageng Pandanaran juga meninggal sesuatu yang sangat berharga yakni ajaran keagamaan. “Ki Ageng Pandanaran dalam menyebarkan agama Islam, memakai falsafah hidup dengan konsep DUIT. Yaitu “D”, Doa ibu didalam setiap aktifitas hidup, “U” Usaha yang ikhlas dan bermanfaat bagi sesama, “I” Iman yang melandasi doa dan usaha, dan terakhir adalah puncak insan kamil, “T” Taqwa di setiap saat dan di setiap tempat”. Tambahnya.
Saat ini, pengawasan dan perawatan makam ditangani oleh Yayasan Sosial Sunan Pandanaran (YSSP) yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1969. Yayasan ini merupakan yayasan khusus pewaris-pewaris keturunan Ki Pandanaran yang menikah dengan Endang Sejawilah atau dikenal dengan Nyi Ageng Pandaran dari daerah Pragoto. Selama hidupnya, mereka memiliki enam keturunan yang tersebar di Jawa Tengah, yaitu pangeran Kasepuhan (Sunan Tembayat), Bayat, Klaten. Pangeran Kanoman (P. Mangkubumi) Imogiri, Surakarta. Pangeran Wotgalih, Nyi Ngilir, dan Pangeran Bojong.
Ari, seorang warga masyarakat Mugas Dalam mengatakan, bahwa di lokasi kawasan makam sengaja jarang sekali penjual-penjual atau aktifitas lain sebagaimana makam-makam yang lain, karena lokasi makam saat ini tepat di tengah kota, sehingga memungkinkan peziarah lebih memilih untuk membeli oleh-oleh langsung dari Mall seperti Ciputra, Matahari atau yang lain. Hal tersebut dibenarkan oleh Mulyo, warga di jalan Mugas Dalam VIII. Mereka menambahkan bahwa ketahayulan-katahayulan dunia mistik dibenak masyarakat Mugas sudah terkikis dan hampir tidak ada yang terkait dengan Ki Ageng Pandanaran. “biasa-biasa saja masyarakat ini menanggapi fenomena-fenomena tertentu yang muncul, mungkin ini efek dunia perkotaan yang akhirnya mengikis hal yang irasional”. Tutur mereka.
Ketua Yayasan Sosial Sunan Pandanaran, H. Sukardiyono, B.A., mengakui hal tersebut, dan menerangkan bahwa segala yang menjurus pada kemistikan (tahayul) langsung diterangkan secara rasional sehingga masyarakat faham tentang sabab musabab sesuatu terjadi.
Makam yang telah mengalami renovasi tiga kali ini (1960, 1975, 1991) mengalami puncak keramaian dalam dua tahap. Tahap pertama Haul Ki Ageng Pandanaran yang jatuh pada tanggal 17 Muharram (Suro), dan Hari jadi kota Semarang setiap tanggal 2 Mei. Biasanya, prosesi ‘buka luwur’ atau haul dihadiri dari keluarga Mataram keturunan dari pangeran Mangkubumi. “untuk itu sudah selayaknya kita ikut menjaga, merawat dan mengetahui tentang Ki Ageng Pandanaran sebagai sesepuh Semarang dan Jawa Tengah”. Pesan ketua Yayasan Sosial Pandanaran.

Reportase Khamdan dan Najib pada Paradigma, Edisi 8 tahun 2005

Read Full Post »